Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Siapkan Skema Menggenjot Hilirisasi Nikel

Salah satu industri yang menjadi fokus pemerintah adalah pengembangan baterai lithium menggunakan raw mineral Indonesia yang kaya akan nikel dan kobalt sebagai dua bahan utama baterai EV.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  16:47 WIB
Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) tengah menyiapkan skenario pemulihan ekonomi di Indonesia pascapandemi Covid-19 dengan membangun industri dari hulu ke hilir yang terintegrasi untuk menarik investasi ke Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan salah satu industri yang menjadi fokus pemerintah adalah pengembangan baterai lithium menggunakan raw mineral Indonesia yang kaya akan nikel dan kobalt sebagai dua bahan utama baterai EV.

Menurutnya, Filipina memiliki deposit nikel nomor dua setelah Indonesia dan diprediksi deposit nikel itu akan habis dalam dua tahun ke depan. Oleh karena itu, Indonesia akan menjadi pilihan utama bagi negara-negara yang berinvestasi di sektor pengembangan baterai lithium.

“Negara lain akan tergantung dengan kita. Saat ini kita memainkan ‘gendangnya’. Karena itu kita akan segera mendorong transfer teknologinya,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (3/6/2020).

Dia menilai Indonesia memiliki cadangan mineral sebagai bahan baku inustri yang cukup banyak jika dibanding negara-negara Asia seperti Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor besi baja Indonesia secara konstan meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2017 nilai ekspor besi baja senilai US$3,3 miliar, meningkat menjadi US$ 5,3 miliar pada 2018, dan US$7,4 miliar pada 2019. Bahkan nilai ekspor besi baja melebihi ekspor kendaraan di kuartal pertama tahun 2020.

Pembangunan industri dari hulu ke hilir akan memberi nilai tambah bagi Indonesia. Dia mencontohkan, ekspor biji nikel pada 2018 sebesar 19,28 juta ton senilai US$612 juta. Saat biji nikel diolah menjadi stainless steel slab, volume ekspor menjadi sebesar 3,85 juta ton dengan nilai US$6,24 miliar.

“Ada peningkatan nilai ekspor sebesar 10,2 kali lipat di sini. Selama ini kita hanya ekspor raw material, ini yang coba diubah pemerintahan Jokowi sejak lima tahun ke belakang. Kita ingin hilirisasi nikel. Ini sudah kita mulai di Sulawesi dan Maluku,” tutur Luhut.

Untuk membangun industri dari hulu ke hilir yang terintegrasi tentu membutuhkan kerja sama dari pihak lain. Menko Luhut mengatakan pemerintah akan membuka investasi bagi negara-negara lain yang bisa memberikan imbal balik bagi Indonesia.

“Dalam investasi tentu ada take and give. Indonesia akan memprioritaskan investor yang mau turut membantu memberikan nilai tambah bagi Indonesia dalam mengelola sumber daya mineral. Harus ada transfer teknologi, hingga mendidik tenaga kerja lokal,” terang Luhut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hilirisasi Nikel Luhut Pandjaitan
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top