Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saat Ini Bukan Waktu yang Tepat bagi Pemula Berkiprah di Properti

Kondisi saat ini tak memungkinkan bagi siapapun untuk mengurus surat izin usaha secara optimal mengingat adanya pembatasan sosial akibat virus corona baru penyebab Covid-19.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 26 Mei 2020  |  14:52 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek perumahan bersubsidi, di Bogor, Jawa Barat, Senin (4/9). - JIBI/Nurul Hidayat
Pekerja beraktivitas di proyek perumahan bersubsidi, di Bogor, Jawa Barat, Senin (4/9). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi pengembang menyatakan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat bagi pengusaha pemula untuk terjun ke bisnis properti termasuk segmen rumah bersubsidi bagi kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Daniel Djumali mem=njelaskan bahwa kondisi saat ini tak memungkinkan bagi siapa pun untuk mengurus surat izin usaha secara optimal mengingat adanya pembatasan sosial akibat virus corona baru penyebab Covid-19.

"Urusan perizinan sebagian kantor instansi terbatas bahkan tutup sehingga bagi bisnis properti yang baru pasti banyak kendala dan hambatannya. Ini saja dari bulan Maret sampai Mei praktis tidak ada kegiatan kemajuan untuk perizinan," katanya pada Bisnis, Selasa (26/5/2020).

Dia mengatakan bahwa mengurus izin usaha dalam kondisi normal bisa memakan waktu lebih dari 2 bulan atau tergantung pada daerah yang mengeluarkan izin tersebut sehingga jika dalam kondisi sekarang dipastikan memerlukan waktu yang lebih lama. 

Belum lagi, pengembang pemula akan dihadapkan pada masalah lain seperti sulitnya mencari tanah yang diinginkan. Kemudian, perbankan juga tidak serta merta mau memberi kredit baru bagi pengembang yang baru terjun menjadi pengembang.  

Lagi pula, kata Daniel, pengembang MBR yang sudah ada saat ini pun sedang berupaya untuk bertahan di tengah anjloknya penjualan rumah subsidi dan arus kas yang tak berputar. Bahkan, sebagian pengembang telah menghentikan kegiatan operasionalnya.

"Belum cari konsumen dan pembangunan konstruksinya. Maka untuk pemula, mungkin bukan waktunya. Kasian selain izinnya susah, lahan yang mahal, dan jika sudah bangun pun untuk cari konsumen dan akadnya enggak semudah dulu karena sekarang ini perbankan selektif. Saya sarankan enggak tepat bagi yang mau baru memulai," tuturnya.

Daniel mengatakan bahwa saat ini Apersi memiliki 3.500-an anggota dengan 2.700 anggota aktif dan sisanya pasif. Dari awal tahun ini, anggota baru Apersi bertambah 5 persen sampai 10 persen. Penambahan anggota baru itu disebutnya tidak sebanyak sepanjang tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apersi mbr
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top