Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ada PSBB, Permintaan Pakan Ternak Menyusut

Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menyebutkan permintaan pakan ternak mengalami penurunan sejak April.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 11 Mei 2020  |  19:16 WIB
Petani memanen jagung untuk pakan ternak ayam di Dusun Guha, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Selasa (18/7). - ANTARA/Adeng Bustomi
Petani memanen jagung untuk pakan ternak ayam di Dusun Guha, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Selasa (18/7). - ANTARA/Adeng Bustomi

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan produsen pakan ternak mencatat adanya penurunan permintaan selama Ramadan sebagai efek dari kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan di berbagai wilayah.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto B. Utomo mengatakan, permintaan pakan ternak pada kondisi normal seharusnya bisa tumbuh sampai 20 persen. Dalam situasi ini, dia mengemukakan bahwa permintaan pakan ternak mengalami penurunan sejak April lalu.

"Kami perkirakan penurunan bisa mencapai 30 persen dibandingkan kondisi normal," kata Desianto kepada Bisnis, Senin (11/5/2020).

Dia menjelaskan bahwa kondisi ini turut dipengaruhi oleh berkurangnya konsumsi daging ayam dan telur. Berdasarkan informasi yang dihimpun asosiasi, kegiatan penetasan telur (setting di hatchery) di perusahaan pembibitan dilaporkan turun di kisaran 25—35 persen. Padahal, produksi pakan secara nasional sebagian besar dialokasikan untuk industri perunggasan.

"Stok dan serapan bahan pakan yang biasanya disiapkan untuk sekitar dua bulan kini bisa bertahan untuk tiga bulan," lanjut Desianto.

Kondisi ini terjadi ketika kapasitas pengolah jagung tercatat mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, total kapasitas penyimpanan jagung (silo) yang tersebar di 10 provinsi sentra produksi menyentuh angka 1,47 juta ton atau tumbuh 10,3 persen dibanding kapasitas pada 2017. Untuk pengering (dryer), kapasitas secara nasional berjumlah 31.486 ton per hari atau tumbuh 7,06 persen dibandingkan dengan 2017.

Stok yang belum terpakai ini pun disebut Desianto berimbas pada daya serap jagung pabrik pakan. Dia tak memungkiri jika serapan tidak bisa dilakukan secara maksimal, terutama saat panen raya yang berlangsung pada April—Mei.

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional Musbar Mesdi menjelaskan bahwa serapan jagung dalam kondisi normal di peternak mandiri berjumlah 300.000 ton. Sementara itu di pabrik pakan mencapai 800.000 ton setiap bulannya.

Seiring berkurangnya kebutuhan pakan olahan pabrik, Musbar mengatakan para petani jagung hanya memiliki sedikit pilihan dalam menyalurkan produksinya. Salah satu penyaluran yang masih bertahan di situasi ini disebutnya berasal dari permintaan peternak mandiri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jagung peternakan pakan ternak
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top