Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengembangan Mixed Use Masih Ada Harapan

Pengembangan mixed use sempat marak dalam beberapa tahun terakhir membuat pasoknya melebihi permintaan. Namun, properti mixed use dinilai masih punya harapan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 05 Mei 2020  |  14:20 WIB
Pengunjung mencari informasi mengenai kredit hunian dalam pameran Indonesia Properti Expo 2020 di Jakarta, Selasa (18/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Pengunjung mencari informasi mengenai kredit hunian dalam pameran Indonesia Properti Expo 2020 di Jakarta, Selasa (18/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Pengembangan mixed use sempat marak dalam beberapa tahun terakhir membuat pasoknya melebihi permintaan. Namun, properti mixed use dinilai masih punya harapan.

Manager Research & Consultancy Coldwell Banker Commercial Angra Angreni mengatakan bahwa memang terjadi penurunan pada pasar apartemen dalam beberapa tahun terakhir. Penambahan pasok baru dan permintaan terus menurun sejak 2015.

Meskipun demikian, jika dilihat pada proyek-proyek tertentu, tetap ada yang memiliki kinerja baik, umumnya berasal dari pengembangan berkonsep mixed use yang berdekatan atau terintegrasi langsung dengan moda transportasi umum, khususnya yang berbasis rel.

“Justru pengembangan mixed use ini diharapkan menjadi pemenuh kebutuhan orang zaman sekarang, mengintegrasikan lebih dari satu atau dua pusat aktivitas dalam satu kawasan,” katanya kepada Bisnis, Selasa (5/5/2020).

Menurut survei yang dilakukan, Angra menyebutkan bahwa orang-orang bahkan cenderung lebih memilih tinggal atau menginap di hotel atau apartemen berlayanan yang punya konektivitas langsung dengan mal atau ritel lifestyle.

“Jadi menurut saya, kenapa ada pengembangan mixed use yg tidak laku atau sepi peminat, mungkin pertama karena kekeliruan konsep, sektor komersial yang diintegrasikan tidak cocok, atau fungsi komersial yang direncanakan tidak saling mendukung,” jelasnya.

Selain itu, adanya ketidaksesuaian lokasi terhadap segmentasi harga juga menjadi penyebab pengembangan mixed use sepi peminat. Misalnya lokasi proyek bukan di prime area tetapi ditawarkan dengan harga yang cukup tinggi.

Kemudian, proyek yang jauh dari moda transportasi umum atau tidak dilalui oleh transportasi umum dan kekeliruan tata layout yang menyebabkan ketidakjelasan jalur sirkulasi juga menjadi penyebab utama orang tidak tertarik untuk membeli unit.

“Hal ini [tata layout] perlu menjadi concern, jalur sirkulasi antara fungsi pribadi dan fungsi publik itu harus jelas demi kenyamanan pengguna,” ungkapnya.

Angra juga menegaskan bahwa pengembangan mixed use belum masuk ke titik jenuh. Hanya saja, pengembangan model ini perlu inovasi baru agar sesuai dengan kebutuhan orang zaman sekarang dengan harga yang terjangkau.

“Karena kenyataannya harga masih menjadi pertimbangan utama bagi pembeli,” tambahnya.

Menurutnya, apabila pengembangan mixed use juga terintegrasi langsung dengan moda transportasi umum, ke depan akan memiliki prospek yang lebih cemerlang. Pasalnya, saat ini kesadaran masyarakat untuk lebih bijak dan memilih transportasi umum cukup bagus dan terus meningkat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

proyek apartemen Mixed Use Property Properti Guna Campuran
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top