Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Akibat Corona, Harga Properti Australia Bisa Anjlok 40 Persen

Penurunan harga, kata seorang penasihat investasi properti, memang tidak bisa terhindarkan dalam kondisi seperti ini.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 27 April 2020  |  14:34 WIB
Suasana di depan Opera House, Sydney, di tengah lockdown, Senin (23/3/2020) - Bloomberg/ Brendon Thorne
Suasana di depan Opera House, Sydney, di tengah lockdown, Senin (23/3/2020) - Bloomberg/ Brendon Thorne

Bisnis.com, JAKARTA – Penyebaran virus corona membuat banyak pekerja harus tetap tinggal dan bekerja di rumah. Di Australia, hal ini dinilai bisa berpengaruh dengan memberi tekanan pada harga rumah.

Berdasarkan riset Gartner, sekitar 41 persen pekerja di Australia harus bekerja dari rumah, mereka diperkirakan tetap melakukan hal itu meskipun pandemi sudah berakhir

Penasihat keuangan, penulis, dan ahli properti Nicole Pedersen-Mickinnon mengatakan bahwa hal itu bisa mengurangi kebutuhan untuk tinggal di kawasan pusat bisnis dan akan menekan harga properti sampai 40 persen.

“Kira-kira [penuruna harga rumah] bisa sampai 40 persen,” ungkapnya seperti dilansir Edgeprop Senin (27/4/2020).

Tekanan pada harga properti di Negeri Kanguru juga dikarenakan banyaknya sepakulasi bahwa kebijakan kerja dari rumah ini bakal permanen sehingga orang dirasa tidak perlu memilik kantor mahal di tengah kota.

Kendati demikian, Mickinnon menambahkan bahwa saat ini banyak sekali perkiraan terkait dengan akan ke mana harga properti mengarah setelah pandemi berakhir.

Commonwealth Bank, misalnya, memprediksi akan adanya penurunan harga properti sampai 10 persen pada Oktober mendatang. Sementara itu, pengamat lainnya ada yang lebih memasang pandangan optimitis.

Penasihat investasi properti Michael Yardney salah satunya menyebutkan bahwa penurunan harga memang tidak bisa terhindarkan dalam kondisi seperti ini. Namun, menurutnya, penurunan harga tidak akan terjadi secara drastis.

“Kasusnya berbeda dengan krisis global pada tahun 1990-an. Jadi, penurunan harga properti tidak akan separah dulu, tetapi yang jelas penjualan memang tidak bisa dipaksakan saat ini,” ujarnya.

Jika melihat harga properti yang dipastikan bakal turun, Yardney menyebutkan bahwa penurunannya akan bergantung pada sebarapa aturan lockdown berlaku, seberapa besar tingkat pengangguran nantinya, dan seberapa cepat perekonomian kembali pulih.

“Perekonomian pada dasarnya bisa dikatakan membeku saat ini sehingga banyak yang menahan diri untuk bersikap konsumtif. Kalau memang ada yang terjual dalam sebulan atau 2 bulan ke depan kemungkinan memang transaksi yang berasal dari perjanjian lama,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

australia Virus Corona
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top