Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hingga 2030, Defisit Anggaran Infrastruktur di Asean US$148 Miliar Per Tahun

Singapore Institute of International Affairs (SIIA) merilis laporan terbaru terkait kondisi Asia Tenggara menghadapi defisit pendanaan untuk memenuhi kebutuhan energi dan infrastruktur yang terus meningkat.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 18 April 2020  |  13:04 WIB
Aktivitas proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di salah satu tunnel atau terowongan di kawasan Tol Purbaleunyi KM 125, Cibeber, Cimahi Selatan, Jawa Barat, Kamis (2/4/2020). Bisnis - Rachman
Aktivitas proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di salah satu tunnel atau terowongan di kawasan Tol Purbaleunyi KM 125, Cibeber, Cimahi Selatan, Jawa Barat, Kamis (2/4/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Singapore Institute of International Affairs (SIIA) merilis laporan terbaru terkait kondisi Asia Tenggara menghadapi defisit pendanaan untuk memenuhi kebutuhan energi dan infrastruktur yang terus meningkat.

Untuk itu, Asean perlu meningkatkan koordinasi, keterampilan, dan transparansi dalam mempromosikan proyek-proyek berkelanjutan kepada investor.

Rekan Senior SIIA Chen Chen Lee mengatakan laporan tersebut mengungkapkan bahwa yang mendasari kurangnya pendanaan berkelanjutan di Asia Tenggara untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur yang besar adalah ketidaksamaan standar lingkungan dan sosial serta risiko yang dipertimbangkan oleh lembaga keuangan, pengembang proyek, lembaga multilateral, dan pemerintah.

"Asian Development Bank juga telah menghitung kesenjangan infrastruktur di kawasan Asean mencapai sekitar US$ 2,8 triliun, atau US$184 miliar per tahun selama periode 2016 hingga 2030," tulisnya dalam laporan SIIA, Sabtu (18/4/2020).

Chen Lee mengemukakan terbatasnya anggaran di banyak negara telah meningkatkan urgensi bagi lembaga keuangan swasta untuk menyalurkan pembiayaan yang lebih hijau dan berkelanjutan ke proyek-proyek infrastruktur, terutama di sektor listrik dan transportasi yang memiliki kebutuhan investasi terbesar yang disesuaikan dengan iklim di negara berkembang Asia.

Menurut Chen Lee untuk mengatasi hal ini pemerintah ASEAN diharapkan dapat menyelenggarakan KTT Infrastruktur dengan menekankan Master Plan ASEAN Connectivity 2025 (MPAC 2025) sebagai cetak biru untuk proyek-proyek infrastruktur di ASEAN, menumbuhkan inisiatif oleh masing-masing negara anggota ASEAN dan melacak aliran keuangan berkelanjutan untuk proyek-proyek listrik dan transportasi.

Sementara itu, untuk lembaga keuangan yang berminat pada sektor listrik dan transportasi ASEAN, harus memberitahukan kebijakan keberlanjutan mereka yang mencakup risiko-risiko utama lingkungan dan sosial, serta pedoman umum tentang cara mereka menangani tantangan konteks-spesifik di negara tempat mereka beroperasi.

Lembaga keuangan harus mengikutsertakan risiko-risiko utama lingkungan dan sosial dalam upaya pemantauan yang mereka lakukan dan menyesuaikan frekuensi pemantauan dengan durasi pembangunan proyek.

Tak hanya itu, lembaga keuangan dapat mengembangkan keahlian dalam pembiayaan khusus, terutama pembiayaan infrastruktur atau investasi hijau. Lembaga pemeringkat dapat mengembangkan sebuah mekanisme pemeringkatan dampak lingkungan dan sosial dari proyek listrik dan transportasi.

Di sisi lain, hasil penelitian ini berasal dari penelitian sekunder, dua pertemuan kelompok kerja dan wawancara tertutup yang melibatkan 118 perwakilan dari 49 organisasi. Organisasi-organisasi ini termasuk lembaga pemerintah, organisasi multilateral, bank dan investor, dan pengembang proyek, perusahaan jasa keuangan, organisasi non-pemerintah (LSM) dan akademisi.

"Di sebagian besar kawasan Asia Tenggara, kurangnya keterhubungan infrastruktur terus menghambat industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi. Tantangan seperti bencana alam dan kemacetan lalu lintas menjadi masalah, dan mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. Menjembatani kesenjangan infrastruktur memerlukan pendanaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan yang menunjukkan kelancaran modal untuk kepentingan kegiatan yang berkelanjutan dan responsif terhadap isu iklim sambil mencapai pertumbuhan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

infrastruktur asean
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top