Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tiket.com Dihantam Covid-19, Penjualan Merosot 75 Persen

Mula-mula, Gaery mengatakan bahwa penjualan perseroan menurun hingga 75 persen.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 13 April 2020  |  18:10 WIB
Chief Marketing Officer tiket.com Gaery Undarsa memberikan penjelasan pada Business Update 2019 tiket.com di Jakarta, Kamis (17/1). Bisnis - Nurul Hidayat
Chief Marketing Officer tiket.com Gaery Undarsa memberikan penjelasan pada Business Update 2019 tiket.com di Jakarta, Kamis (17/1). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Industri pariwisata di dalam negeri ikut terseret arus pelemahan ekonomi global akibat wabah Covid-19.

Dampak ini tak terkecuali dirasakan oleh semua kelompok usaha di dalamnya, termasuk online travel agent (OTA) Tiket.com.

Managing Director Tiket.com Gaery Undarsa, melalui konferensi pers virtual yang digelar pada Senin (13/4/2020), menceritakan nasib perusahaannya setelah wabah corona menyerang ratusan negara.

Mula-mula, Gaery mengatakan bahwa penjualan perseroan menurun hingga 75 persen. 

"Penurunan paling banyak tercatat untuk tiket pesawat. Selanjutnya hotel," kata Gaery.

Terjunnya penjualan membuat manajemen berpikir cara paling cepat untuk menjaga stabilitas fiskal perusahaan.

Awalnya, perusahaan menyusun berbagai asumsi risiko dengan masa darurat yang berbeda-beda. Skenario awal disusun untuk tiga bulan, kemudian enam bulan, dan terakhir hingga satu tahun.

Di saat yang sama, perusahaan mengaktifkan survival mode agar sebisa mungkin tak mengambil langkah pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menurut Gaery, PHK adalah opsi terakhir. Sedangkan untuk mempertahankan bisnis, Gaery mengatakan perseroan telah memangkas sejumlah ongkos operasional.

Pos yang paling besar dipotong adalah ongkos marketing atau penjualan dengan porsi mencapai 90 persen. Dengan begitu, perusahaan pun otomatis memutar kemudi fokus dari bisnis penjualan tiket dan hotel ke sisi customer handling atau layanan konsumen.

Perubahan fokus perseroan ini juga didorong oleh meningkatnya minat konsumen untuk melakukan reschedule atau pengubahan jadwal perjalanan hingga refund alias pengembalian tiket. Per hari, tutur Gaery, peningkatan untuk layanan konsumen ini mencapai 7-10 kali lipat.

Alhasil, hampir seluruh karyawan pun diperbantukan untuk turut menangani konsumen.

Di sisi lain, perusahaan juga berupaya membantu pemerintah mengampanyekan gerakan jaga jarak sosial atau physical distancing yang ditampilkan di halaman aplikasi.

Meski begitu, Gaery mengakui perusahaan masih mengantongi transaksi dari penjualan-penjualan tiket.

"Penerbangan masih menyumbang transaksi paling besar karena saat ini masih ada orang yang butuh melakukan perjalanan, seperti untuk keperluan medis dan pemerintah," tuturnya.

Gaery optimistis situasi ini akan berakhir dan ekosistem pariwisata kembali pulih. Ia mengakui sudah menyusun asumsi pemulihan seandainya persebaran virus corona berhasil dimampatkan.

Pertama, ia mengatakan, tren pemulihan akan difokuskan terhadap penjualan hotel-hotel di dalam kota untuk kepentingan staycation. Ia meyakini, seusai pandemi berakhir, masyarakat mula-mula akan memilih berlibur dengan menginap di hotel-hotel dengan radius yang masih tak terlampau jauh dari rumahnya.

Tren ini, kata dia, terjadi karena masyarakat bosan terus-terusan berada di rumah selama wabah.

Kedua, tren pemulihan difokuskan untuk destinasi yang bisa dijangkau dengan transportasi pribadi, seperti di Bandung atau Puncak, Bogor.

Ketiga, tahap pemulihan dilakukan untuk destinasi domestik seperti Yogyakarta dan Bali. 

"Untuk pemulihan tujuan internasional ini bakal menjadi tahap terakhir," ujarnya.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

agen perjalanan Virus Corona

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top