Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AKLP: Penurunan Tarif Gas Sudah Genting

Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) menyatakan penurunan tarif gas ke level US$6 per MMBtu sudah genting dengan keadaan saat ini.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 01 April 2020  |  19:41 WIB
Kaca retak. - Antara
Kaca retak. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) menyatakan penurunan tarif gas ke level US$6 per MMBtu sudah genting dengan keadaan saat ini.

Ketua Umum AKLP Yustinus Gunawan mengatakan permintaan pasar pada akhir kuartal I/2020 telah terkontraksi sekitar 20-30 persen. Hal tersebut, lanjutnya, berbahaya bagi pabrikan kaca lembaran lantaran karakteristik mesin produksi yang harus berjalan terus menerus sepanjang tahun.

"[Volume permintaan] April-Mei bisa menyusut 40-50 persen. Bahaya! Proses produksi kaca lembaran harus nonstop untuk jaga kestabilan struktur tungku peleburan sehingga perlu harga gas turun supaya bisa tangkal impor," katanya kepada Bisnis, Rabu (1/4/2020).

Adapun, produk impor yang dimaksud Yustinus adalah stok kaca lembaran saat wabah COVID-19 menyerang Malaysia dan China. Yustinus berujar pabrikan kaca di kedua negara tersebut telah dalam proses recovery dari wabah COVID-19.

Selain penurunan tarif gas, Yustinus telah meminta Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk menertibkan pemerintah daerah yang menghambat jalannya proses produksi di pabrikan. Menurutnya, hambatan pada proses produksi dengan keadaan seperti ini membuat pabrikan berpotensi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

"[Kalau dibatasi] roda produksi berhenti dan pelanggan hilang. [Alhasil,] recovery pada pandemi lewat, yang menjadikan produksi amat sangat sulit bangkit [saat recovery nanti]," katanya.

Terakhir, Yustinus juga meminta agar PT Perusahaan Gas Negara, Tbk. (PGN) untuk menghapuskan pemakaian minum gas saat wabah COVID-19 belum terselesaikan. Hal tersebut, ujarnya, penting dilakukan lantaran tingkat konsumsi nasional saat ini membuat konsumsi gas sudah nyaris di bawah kontrak pemakaian gas minimum.

Di samping itu, Yustinus pelemahan kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat juga memberatkan pabrikan di era penyusutan pasar saat ini. Pasalnya, saat ini tarif yang dibayarkan ke PGN masih dalam rupiah, namun berdasarkan dolar Amerika Serikat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Gas industri kaca
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top