Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspansi Produksi Masker: Izin Kemenkes Jadi Batu Sandungan Industri Tekstil?

Asosiasi Produsen Serat dan Benang FIlamen (APSyFI) menyatakan pabrikan hulu dapat dengan mudah melakukan shifting produksi ke bahan baku berkualitas medis dengan cepat.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 20 Maret 2020  |  22:25 WIB
Warga menggunakan masker saat menggunakan eskalator di Stasiun Ampang Park, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (17/3/2020). Perdana Menteri Muhyiddin Yassin menyatakan bahwa Malaysia mulai membatasi pergerakan orang secara nasional untuk membatasi penyebaran virus corona. Negara itu melarang semua pengunjung, dan penduduk dilarang bepergian ke luar negeri, tempat ibadah, sekolah dan tempat bisnis akan ditutup kecuali untuk pasar yang memasok kebutuhan sehari-hari. Bloomberg - Samsul Said
Warga menggunakan masker saat menggunakan eskalator di Stasiun Ampang Park, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (17/3/2020). Perdana Menteri Muhyiddin Yassin menyatakan bahwa Malaysia mulai membatasi pergerakan orang secara nasional untuk membatasi penyebaran virus corona. Negara itu melarang semua pengunjung, dan penduduk dilarang bepergian ke luar negeri, tempat ibadah, sekolah dan tempat bisnis akan ditutup kecuali untuk pasar yang memasok kebutuhan sehari-hari. Bloomberg - Samsul Said

Bisnis.com, JAKARTA – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional mengaku punya kapabilitas untuk menggenjot produksi masker di dalam negeri. Sayangnya, potensi itu terganjal perizinan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang FIlamen (APSyFI) Redma Wirawasta menyatakan pabrikan hulu dapat dengan mudah melakukan shifting produksi ke bahan baku berkualitas medis dengan cepat.

Namun demikian, minimnya pabrikan masker di sektor antara dan hilir industri TPT membuat pergeseran produksi tersebut tertahan.

"Pabrikan masker sudah full capacity [saat ini]. Kalau tambah produksi pasti tambah investasi. Investasi baru ini ada hambatan di izin edar dari Kemenkes [Kementerian Kesehatan]," kata Sekretaris Jenderal APSyFI Redma Wirawasta kepada Bisnis, Jumat (20/3/2020).

Dia menjelaskan, belum lama ini setidaknya ada dua investor yang telah berminat berinvestasi pada produksi masker. Sayangnya, iktikad investasi tersebut tertahan lantaran izin edar dari Kemenkes yang dianggap akan mempersulit pemasaran.

Spesifikasi masker medis umumnya terbuat dari kain bukan rajutan dari serat polyester maupun rayon, yakni spunbond dan meltbond. Adapun, pabrikan lokal baru memasok sekitar 10 persen dari total serat yang dibutuhkan pabrikan kain maker saat ini.

Sebelumnya, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) telah berkomitmen untuk menyumbangkan 1 juta unit masker ke Palang Merah Indonesia (PMI). Redma berujar masker tersebut tidak terbuat dari dari kain spunbond maupun meltbond,  tapi dari kain anti bakteri yang mudah untuk dijahit dan dapat dicuci kembali.

Terpisah, Sekretaris Jenderal API Rizal Rakhman mengatakan pihaknya saat ini masih dalam proses pembuatan 1 juta unit masker tersebut. Adapun, lanjutnya, API menargetkan dapat menyumbangkan hingga 2 juta unit masker ke PMI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Rizal setuju bahwa peningkatan produksi masker di dalam negeri belum bisa dilakukan. Pasalnya, pabrikan yang memiliki kapabilitas memproduksi kain berstandar medis dapat dihitung dengan jari dan volume produksi per pabrikan sangat kecil.

"Kami basic [produksi masker berstandar medis] sangat terbatas produsennya. Jadi, selama ini memang untuk memenuhi kebutuhan masih kurang [mampu], masih banyak yang impor," katanya kepada Bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

produksi Virus Corona masker
Editor : David Eka Issetiabudi
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top