Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasokan Melimpah, Harga Garam Lokal di Bawah Biaya Produksi

Musim dengan curah hujan tinggi seharusnya membuat produksi garam nasional mengalami penurunan dan harga terkerek.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  17:17 WIB
Petani garam Amed memanen garam menggunakan alat tradisional. JIBI - BISNIS/Feri Kristianto
Petani garam Amed memanen garam menggunakan alat tradisional. JIBI - BISNIS/Feri Kristianto

Bisnis.com, JAKARTA — Keluhan harga garam rakyat yang berada di bawah biaya produksi masih dikumandangkan oleh petani. Berbagai siasat pun dilakukan agar garam bisa dijual sesuai keinginan pasar, termasuk memangkas biaya rawat tambak, meski hal tersebut dapat berimbas pada tingkat produktivitas.

Ketua Umum Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) Jakfar Sodikin menyatakan harga garam saat ini seharusnya bisa tinggi mengingat minimnya produksi pada musim penghujan. Hal ini setidaknya terjadi di sejumlah sentra produksi seperti di Pulau Jawa.

Dia memperkirakan kondisi ini lebih dipengaruhi oleh kondisi pasokan dan permintaan. Produksi garam yang belum terserap dan stagnannya permintaan mengakibatkan pasokan cenderung besar.

"Menurut saya penurunan harga ini tetap karena supply dan demand. Pasokan terlalu banyak dan penyerapan pun turun," kata Jakfar ketika dihubungi pada Jumat (28/2/2020).

Jakfar menyebutkan harga garam kualitas II saat ini berkisar di level Rp300—350 per kilogram (kg) dan garam kualitas I dihargai di angka Rp400 per kilogram. Harga garam sendiri terus menunjukkan tren penurunan sejak musim panen pertengahan lalu yang sempat berada di harga Rp500 per kg. Padahal, biaya produksi garam sendiri berada di kisaran Rp900—950 per kg.

Guna menekan kerugian dan tetap menjual sesuai permintaan pasar, Jakfar mengatakan petani garam rakyat harus menghilangkan sejumlah komponen produksi seperti perawatan tambak sebelum musim panen mendatang, pengerasan tanah, perbaikan geomembran, bahkan menurunkan upah buruh dari Rp100.000 per hari menjadi Rp30.000—50.000 per hari.

"Kalau [aksi penghematan] dibiarkan, dua sampai tiga tahun lagi tambak garam itu akan rusak, produksinya juga akan berkurang," tambah dia.

Jakfar memperkirakan pasokan berlebih yang mengakibatkan semakin turunnya harga garam rakyat turut dipengaruhi oleh kehadiran garam impor yang berimbas pada penyerapan rendah industri pengolah garam terhadap garam rakyat.

"Apakah perusahaan [pengolah garam] tidak mau produksi? Kan tidak mungkin. Saya duga ada suplai lain karena fungsi garam ini tidak bisa disubtitusi, mungkin garam impor," ungkapnya.

Ketika ditanyai mengenai harga serapan garam rakyat, Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Tony Tanduk mengungkapkan tidak bisa memastikan besarannya karena bakal sangat tergantung dengan kualitas garam. Kendati demikian, dia memperkirakan harga serapan masih berkisar di angka Rp500—700 per kg.

"Kalau harga saya tidak tahu persis. Itu kesepakatan dengan pembeli. Tetapi kami berharap Rp500 sampai Rp700 per kilogram. Mungkin ada yang di atas itu juga karena tergantung kualitas juga," kata Tony.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

petani garam
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top