Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Riset Ini Menyebutkan Pemakaian Co-working Space Bisa Kurangi Emisi Karbon

Kehadiran ruang kerja fleksibel dinilai banyak memberikan manfaat, termasuk salah satunya adalah membantu menurunkan emisi karbon.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 20 Februari 2020  |  14:31 WIB
Salah satu coworking space di Kuningan, Jakarta Selatan. - Reuters
Salah satu coworking space di Kuningan, Jakarta Selatan. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Ruang kerja fleksibel atau co-working space diperkirakan akan mulai menjamur tidak hanya di kota besar, tetapi juga di kota kecil dan kota satelit.

Penyebaran co-working space ke berbagai lokasidinilai bisa membantu mengurangi emisi karbon dan menyelamatkan lingkungan. Hal ini lantaran jika orang bekerja jauh dari rumah, akan meninggalkan jejak karbon tinggi. Sementara jika bekerja dekat dari rumah, jejak karbon bisa berkurang.

Hasil riset penyedia jasa co-working space, Regus menyebutkan bahwa dengan memanfaatkan ruang kerja fleksibel yang ada di pinggiran kota, akan mengurangi emisi karbon setara dengan 1.280.000 penerbangan trans-atlantik antara London dan New York setiap tahun.

“Itu sama dengan 2,56 juta metrik ton karbon dihentikan memasuki atmosfer setiap tahunnya, hanya dengan bekerja lebih dekat ke rumah,” kata Lars Wittig, Executive Vice President Sales Regus Asean, Taiwan, dan Korea Selatan, melalui siaran pers, Kamis (20/2/2020).

Sejumlah ekonom yang melakukan riset untuk Regus, memproyeksikan bahwa dengan bekerja lebih dekat dari rumah, dapat membuat penghematan rata-rata 7.416 jam komuter per tahun bagi pekerja, atau setara dengan pengurangan 118 metrik ton emisi karbon per kantor per tahun.

“Mereka yang berpindah dari bekerja di rumah ke co-working space juga berkontribusi untuk lingkungan. Hal itu mungkin disebabkan adanya penghematan energi untuk panas dan lampu yang dinyalakan untuk ruang bersama, bukan untuk ruang untuk satu pekerja personal,” imbuh Wittig.

Lebih lanjut, Wittig menyebutkan bahwa melakukan perjalanan jauh pulang pergi juga bisa menjadi tidak nyaman, tidak ramah lingkungan, dan sangat menyita waktu.

“Ini juga merupakan sumber besar polusi global. Di zaman di mana setiap bisnis dan individu memiliki tanggung jawab terhadap dampak yang mereka buat terhadap lingkungan di dunia, komuter ke kota-kota besar tampaknya semakin kuno,” ujarnya.

Harapannya, dengan kontribusi terhadap lingkungan yang cukup besar, ke depannya akan ada lebih banyak lagi lokasi co-working space di kota yang lebih kecil, serta di kota-kota satelit.

Adapun, dengan semakin banyaknya masyarakat masa kini yang memilih menjadi pengusaha, kemunculan sistem kerja fleksibel semakin besar.

Riset Regus menyebutkan, manfaat ekonomi dari pengadaan co-working space di wilayah pinggiran kota dapat memberikan kontribusi lebih dari US$254 miliar untuk ekonomi lokal pada sedekade ke depan.

Selain itu, terbuka juga kemungkinan untuk terciptanya lebih banyak lapangan kerja baru. Dalam riset Regus tercatat rata-rata akan ada 121 pekerjaan baru diciptakan pada masyarakat kota yang memiliki jaringan ruang kerja fleksibel, dengan tambahan US$9,63 juta akan langsung masuk ke ekonomi lokal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti coworking space
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top