Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gara-gara Corona Inflasi Februari 2020 Bisa Terkerek, Kok Bisa?

Pemerintah harus menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kenaikan inflasi akibat lonjakan harga pada komponen volatile food.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 14 Februari 2020  |  19:09 WIB
Pedagang membersihkan bawang putih di salah satu pasar tradisional di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (2/5/2019). - ANTARA/Arnas Padda
Pedagang membersihkan bawang putih di salah satu pasar tradisional di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (2/5/2019). - ANTARA/Arnas Padda

Bisnis.com, JAKARTA - Virus Corona yang melanda China diperkirakan bakal merembet pada pergerakan inflasi Februari 2020 seiring dengan ketergantungan impor bawah putih dari Negeri Panda tersebut.

Ekonom Insitute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira harga bawang putih terus merangkak naik sementara impor dari China dibatasi seiring penyebaran wabah virus corona atau Covid-19. Dia menambahkan, 80 persen kebutuhan bawang putih masih dipasok dari luar negeri.  

"Di awal tahun ini, [inflasi] volatile food sudah jadi ancaman, khususnya komoditas bawang putih karena harganya naik cukup tinggi akibat hambatan impor dari China," ujarnya kepada Bisnis.com, Jumat (14/2/2020).

Menurut Bhima, risiko kenaikan harga bawang putih makin besar karena bulan Ramadan akan jatuh pada Mei 2020. Kebutuhan bawang putih dalam momen Ramadan dan juga Idulfitri secara siklus meningkat. Maka, keterlambatan impor sedikit saja bisa membuat harga bawang putih terus merangkak.

Bhima menilai, pemerintah perlu mengamankan pasokan bawang putih dengan mencari alternatif negara asal impor.  Selain China, salah satu produsen bawang putih di dunia adalah India.

Selain bawang putih, pemerintah juga perlu mewaspadai pasokan beras dan jagung karena perubahan iklim membuat produksi pangan berpotensi terganggu. Bhima menyebut, pemerintah perlu melakukan langkah holistik, mulai dari mempertajam efektivitas bantuan pangan, inovasi pertanian, melancarkan distribusi, hingga menaikan serapan beras Bulog sbagai buffer stok.

Untuk diketahui, pemerintah dan Bank Indonesia menargetkan inflasi indeks harga konsumen berada di kisaran 3 +/- 1 persen  sepanjang 2020. Selain itu, rapat koordinasi (high level meeting) Tim Pengendali Inflasi Pusat juga mematok target inflasi volatile food 4 +/-1 persen.  Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi pada Januari sebesar 0,39% (month to month) dan 2,68% (year on year) sepanjang tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top