Kontribusi Pembangkit EBT di NTB 13 Persen Bauran Energi

Masuknya pasokan listrik dari PLTS Sambelia menambah portofolio pembangkit listrik berbasis surya menjadi 22 MW. Sebelumnya, telah beroperasi PLTS Sengkol, Selong dan Pringga.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  20:29 WIB
Kontribusi Pembangkit EBT di NTB 13 Persen Bauran Energi
Petugas sedang melakukan pengecekan harian di PLTS Gili Trawangan dengan kapasitas 600 kWp - Bisnis / David E. Issetiabudi

Bisnis.com, MATARAM – Kontribusi pembangkit berbasi energi baru terbarukan (EBT) di Nusa Tenggara Barat sebesar 37 megawatt atau 13 persen dari total daya mampu netto (DMN).

Senior Manager Perencanaan PLN Unit Induk Wilayah NTB Arsyadany Ghana Akmalaputri mengatakan kontribusi pembangkit EBT terus meningkat, dan bertambah menjadi 37 MW pada akhir tahun lalu.

Tambahan kontribusi pembangkit EBT seiring beroperasinya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Sambelia sebeser 5 megawatt (MW).

Bahkan, menurut Arsyadany, PLTS Sambelia dapat mencapai 7,5 MW dengan didukung faktor cahaya matahari.

“Karena PLTS Sambelia itu didukung dengan teknologi sensor yang bisa mengejar cahaya. Setelah beroperasi, kami pernah mencatat kinerja hingga 7,5 MW,” tuturnya kepada Bisnis.com, Kamis (13/2/2020).

Masuknya pasokan listrik dari PLTS Sambelia menambah portofolio pembangkit listrik berbasis surya menjadi 22 MW. Sebelumnya, telah beroperasi PLTS Sengkol, Selong dan Pringga.

Selain PLTS, di PLN Unit Induk NTB ada pula pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas 15 MW.

Arsyadany menambahkan meningkatnya kontribusi pembangkit berbasis EBT, biaya pokok penyediaan (BPP) turun Rp7 per kWh. Dari sisi biaya bahan bakar minyak pun mengalami penurunan 3,1 persen dan menurunkan deviasi terhadap PLTD sebesar Rp900 per kWh.

“Tahun ini kami akan kembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid, itu untuk menurunkan BPP. Bukan soal meningkatkan daya, tetapi fokus untuk menurunkan BPP,” katanya.

Sementara itu, Vice President Public RelationPLN Dwi Suryo Abdullah mengatakan fokus PLN di NTB adalah meningkatkan pasokan listrik. Hal ini menjadi prioritas seiring dengan pertumbuhan konsumsi daerah dan pengembangan ekonomi dan pariwisata.

“Pertumbuhan konsumsinya terbesar setelah Lampung. Fokus kami adalah meningkatkan pasokan, barulah keandalan,” katanya.

Tiga Pulau Wisata

Untuk mendukung pasokan listrik yang andal di kawasan wisata, PLN memanfaatkan tenaga surya untuk menghasilkan listrik guna mendukung pariwisata di kawasan destinasi favorit Lombok.

Kawasan Tiga Gili (Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan) yang telah diperkuat dengan jaringan kabel laut, juga didukung dengan tiga PLTS.

Masing-masing pulau memiliki satu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), yaitu PLTS di Gili Air memiliki kapasitas 160 kWp, plts Gili Meno sebesar 60 kWp serta plts di Gili Terawangan sebesar 600 kWp.

"Total tiga pulau wisata ini ada 820 kWp. Ini langsung dialirkan ke ketiga pulau yang ada," ujar Dwi.

Ketiga pembangkit tersebut beroperasi dari pukul 07.00 hingga pukul 17.00. Sedangkan untuk sisanya listrik dipasok dari Lombok melalui kabel bawah laut.

"Pembangkit ini hanya siang hari beroperasinya. Setelah matahari tenggelam pasokan listrik penuh dari kabel laut," tuturnya.

Saat ini Kawasan tiga Gili memiliki beban puncak sebesar 5 Mega Watt (MW). Dengan menggunakan kabel laut dari Pulau Lombok dan tiga PLTS, kawasan tersebut memiliki daya mampu listrik mencapai 36 MW.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
plts

Editor : David Eka Issetiabudi
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top