Penurunan Harga Gas, Hanya Dinikmati Sebagian Kecil Perusahaan Kimia

Pelaku usaha kimia menyambut baik rencana penurunan harga gas kendati sebagian kecil perusahaan yang menikmatinya.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 30 Januari 2020  |  15:11 WIB
Penurunan Harga Gas, Hanya Dinikmati Sebagian Kecil Perusahaan Kimia
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA — Jadwal penurunan harga gas pada paruh pertama 2020 ini disambut baik oleh pelaku usaha salah satunya industri kimia.

Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik (Akida) Michael Susanto Pardi mengatakan harga gas pada April atau Mei mendatang menjadi berita baik meski kemungkinan hanya untuk terbatas di lima atau tujuh jenis industri saja.

Untuk industri kimia sendiri, dia menyebut kemungkinan hanya diberikan terbatas kepada sedikit perusahaan saja yang bisa menikmati penurunan ini.

"Mungkin perkiraan saya hanya sekitar 10 - 20 perusahaan saja [yang menikmati]. Namun, tentunya efeknya pun akan dirasakan jangka panjang karena belum secara keseluruhan industri kimia bisa menurunkan biaya produksi," katanya, Kamis (30/1/2020).

Michael berharap penurunan gas ini segera diberikan ke seluruh industri pengguna gas tanpa syarat dan tanpa batasan. Menurutnya, penurunan harga gas yang rencana US$2/mmbtu akan membuat harga gas indonesia sekitar US$6-8/mmbtu masih jauh lebih mahal dari negara tetangga.

Alhasil, tentunya belum menarik bagi investor luar maupun investor dalam negeri untuk membangun pabrik baru ataupun melakukan ekspansi.

Menurut Michael, potensi penurunan harga gas tentunya akan memicu pertumbuhan ekonomi dan pembangunan pabrik-pabrik kimia baru sebagai bahan baku hulu untuk industri hilir lainnya. Sebut saja seperti industri keramik, makanan mininuman, tekstil, detergen, air bersih, ban, dan sebagainy.

"Namun apabila tidak diturunkan, industri kimia indonesia lambat laun juga akan mati dan Indonesia akan jadi importir bahan baku kimia dan importir barang jadi," ujarnya.

Sementara itu, apabila tidak ada industri kimia dalam negeri yang menyuplai bahan baku kepada industri hilir, tentunya industri hilir tidak akan kompetitif. Ujung-ujungnya Indonesia hanya jadi negara tujuan ekspor dari negara-negara tetangga.

Padahal, menurut Michael, Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara dengan GDP terbesar dan jumlah penduduk terbesar. Untuk itu, perlu rencana jangka panjang yang komprehensif untuk industri kimia, misalnya kawasan industri kimia yang terintegrasi dengan pelabuhan, lengkap dengan gas dan listrik yang stabil.

"Tentu juga dekat dengan industri-industri hilir sebagai konsumen dari industri kimia. Sekarang letak industri kimia dan industri hilir sebagai pengguna, tersebar kemana-mana," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, gas

Editor : David Eka Issetiabudi
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top