Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Virus Corona, Maskapai Ramai-Ramai Batalkan Penerbangan ke China

Maskapai di seluruh dunia menangguhkan lebih banyak penerbangan ke China untuk membantu menghentikan penyebaran virus Wuhan yang mematikan itu.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 29 Januari 2020  |  17:25 WIB
Ilustrasi - Reuters
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Maskapai di seluruh dunia menangguhkan lebih banyak penerbangan ke China untuk membantu menghentikan penyebaran virus Wuhan yang mematikan.

Dilansir Bloomberg, Rabu (29/1/2020), British Airways menghentikan penerbangan harian ke Beijing dan Shanghai dari Bandara Heathrow London, setelah para pejabat AS menyarankan agar tidak melakukan perjalanan penting ke Negeri Tirai Bambu itu. Maskapai penerbangan berbendera Inggris itu menyatakan akan meninjau kembali kebijakan ini dalam beberapa hari ke depan.

Maskapai lain, Cathay Pacific Airways Ltd. Hong Kong mengatakan secara terpisah akan memangkas kapasitas ke China sebesar 50 persen atau lebih mulai Kamis, 30 Januari 2020.

Hal itu diyakini akan menambah pukulan terhadap maskapai tersebut yang saat ini masih berada di bawah tekanan dari protes di Hong Kong.

Sementara itu, di AS, United Airlines Inc. mengatakan akan mengurangi penerbangan ke Beijing, Shanghai dan Hong Kong.

Pemerintah telah meningkatkan upaya untuk menghentikan penyebaran penyakit ketika sekelompok orang yang terinfeksi mulai muncul di negara-negara di luar China, termasuk Jerman.

Hal itu menyebabkan maskapai penerbangan yang sudah mundur dari Wuhan, membuat destinasi China lainnya terlarang. Bandara Wuhan menangani sekitar 25 juta penumpang per tahun.

Jumlah kasus yang dikonfirmasi di China melonjak menjadi 5.974 orang, melampaui jumlah pasien SARS di negara itu pada 2003. Sementara 132 orang dilaporkan meninggal karena virus corona.

Pemerintah Jerman menyatakan pihaknya mengidentifikasi sekelompok pasien lokal yang terinfeksi oleh seorang wanita dari Shanghai yang telah mengunjungi Eropa. Hal ini dinilai sebagai suatu tanda yang mengkhawatirkan karena menunjukkan potensi penyebaran tambahan di luar China.

Alarm yang meningkat telah berdampak pada perjalanan di China selama musim liburan Tahun Baru Imlek.

Mengutip Kementerian Transportasi, People's Daily melaporkan perjalanan domestik dengan kereta api, darat, laut dan pesawat terbang di China turun 7,4 persen  antara 10 Januari dan 28 Januari 2020.

Beberapa maskapai Korea Selatan juga telah menghentikan penerbangan ke kota-kota China, termasuk Asiana Airlines Inc., Jeju Air Co. dan Jin Air Co. Finnair Oyj dan Air Macau Co. juga mengambil langkah serupa.

Analis Bloomberg Intelligence James Teo dan Chris Muckensturm mengatakan China Southern Airlines Co bisa menghadapi pukulan terbesar di antara maskapai tiga besar negara itu karena mengontrol 30 persen dari kapasitas kursi Wuhan, dengan rute ke dan dari ibu kota provinsi Hubei, yang menyumbang 3,6 persen dari kursinya. Angka itu sebanding dengan 1,5 persen untuk Air China Ltd., yang juga rentan.

Teo dan Muckensturm menambahkan, sebelumnya lalu lintas penumpang di maskapai seperti Cathay dan China Southern anjlok 32 persen menjadi 37 persen pada semester pertama 2003 karena pandemi SARS.

"Implementasi cepat dan langkah-langkah pencegahan bandara internasional dapat membantu menumpulkan dampaknya," katanya.

Saham China Southern turun sebanyak 6,7 persen karena perdagangan dilanjutkan di Hong Kong setelah liburan Tahun Baru Imlek, sementara Air China turun 5,5 persenpers China Eastern Airlines Co turun sebanyak 7,7 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

virus corona
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top