Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Jagung Terancam Hama Ulat Grayak

Produksi jagung tahun ini diwarnai potensi penurunan seiring mengemukanya keluhan petani mengenai kawasan yang terdampak hama ulat grayak. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 28 Januari 2020  |  11:40 WIB
Petani mengupas kulit jagung menjelang panen di Desa Polagan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Kamis (3/1/2019). - ANTARA/Saiful Bahri
Petani mengupas kulit jagung menjelang panen di Desa Polagan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Kamis (3/1/2019). - ANTARA/Saiful Bahri

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi jagung tahun ini diwarnai potensi penurunan seiring mengemukanya keluhan petani mengenai kawasan yang terdampak hama ulat grayak. 

Produksi pun turut terganggu lantaran masa tanam yang mundur ditambah dengan serangan hama tikus.

Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) memperkirakan produksi jagung berpotensi turun signifikan akibat serangan hama ini. Dibandingkan tahun lalu, laporan mengenai tanaman jagung yang rusak akibat ulat grayak disebut semakin banyak.

"Tahun lalu ada laporan hama ulat grayak, tapi tidak sebanyak tahun ini. Saya tidak berani menyebut angkanya karena data produksi jagung masih simpang siur, tapi saya perkirakan akan turun signifikan, bisa di atas 20%," ujar Ketua Umum APJI Sholahudin kepada Bisnis, Senin (27/12/2020).

Sholahudin belum bisa memastikan berapa luas tanaman yang terdampak. Namun, dia menjelaskan serangan hama tersebut dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah sentra produksi seperti Tuban dan Lamongan.

Dia tidak mengetahui secara pasti mengapa kasus serangan hama ulat grayak cenderung lebih banyak tahun ini. Namun, berdasarkan informasi yang diperolehnya, migrasi telah memperluas sebaran hama yang berasal dari benua Amerika tersebut.

"Hama ini umumnya menyerang tanaman jagung usia muda, sekitar 2 minggu dan dihabiskan sampai tak tersisa," terangnya.

Langkah antisipasi pun disebut Sholahudin sejatinya telah dikerahkan Kementerian Pertanian dengan menerjunkan satuan tugas ke lokasi yang melaporkan serangan hama. Kendati demikian, dia mengharapkan ke depann pemerintah dapat terbuka pada pengembangan jagung transgenik yang tahan hama demi mencegah kondisi serupa terulang kembali.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi mengklaim bahwa wabah hama ulat grayak telah ditindaklanjuti dengan pengiriman tim ke lapangan. Dia pun menyatakan bahwa wilayah yang terdampak hama tidaklah terlalu luas.

"Itu sudah kami selesaikan. Kalau ada ulat grayak, kami turunkan tim untuk diselesaikan. Kami sudah punya sistem daring untuk pelaporan hama, baik dari petugas maupun masyarakat," ujar dia.

Suwandi pun mengatakan panen pada Februari tidak akan terganggu. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, setidaknya potensi panen selama Februari mencapai 500.000 hektare dengan produktivitas sebesar 5,5–6 ton per hektare. Adapun luas area jagung yang dilaporkan diserang hama disebutnya tak sebesar kekhawatiran sejumlah pihak.

"Stok jagung kita akan aman dengan produksi tersebut. Harga jagung pun menurut laporan masih di kisaran Rp4.100 sampai Rp4.200 per kilogram, ada yang Rp3.500 sampai Rp4.600 tergantung kadar air dan lokasi," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jagung pertanian
Editor : Lucky Leonard

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top