Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Direktur Utama Garuda Ditetapkan Hari Ini, Ini Saran Alvin Lie

Rute internasional belum banyak digarap oleh maskapai Garuda Indonesia.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 22 Januari 2020  |  09:31 WIB
Pramugari Garuda Indonesia mengenakan kebaya rancangan Anne Avantie - Instagram @anneavantieheart
Pramugari Garuda Indonesia mengenakan kebaya rancangan Anne Avantie - Instagram @anneavantieheart

Bisnis.com, JAKARTA - Direksi baru PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang akan ditunjuk dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) harus memaksimalkan pendapatan rute internasional yang kini belum maksimal. 

Pemerhati penerbangan sekaligus anggota Ombudsman RI Alvin Lie mengatakan bos baru di perusahaan pelat merah itu mesti meningkatkan pendapatan dari sisi operasional penerbangan untuk rute internasional.

"Rute penerbangan internasional belum banyak digarap," ujarnya seperti dikutip Tempo, Selasa (21/1/2020) petang.

Menurutnya, penerbangan untuk rute internasional Garuda berpotensi menambah masukan bagi perusahaan dari sisi dolar Amerika Serikat. Adapun, dia menilai, Garuda kini baru memaksimalkan pendapatan dari penjualan tiket penerbangan untuk rute domestik.

Alvin melanjutkan strategi memaksimalkan pendapatan rute internasional merupakan salah satu pekerjaan rumah dalam waktu dekat untuk membenahi kondisi keuangan maskapai milik negara itu.

Berdasarkan data yang dihimpun, perseroan tersebut telah membuka rute penerbangan internasional sebanyak 36 destinasi. Dalam penerbangan ke luar negeri, Garuda telah menjangkau pasar Eropa, Asia, Timur Tengah, Australia, dan Amerika.

Jumlah destinasi internasional yang disediakan maskapai pelat merah ini hanya berselisih tak seberapa dengan rute domestik. Dalam data yang sama, Garuda Indonesia kini menerbangi 40 rute dalam negeri.

Selain memaksimalkan pendapatan dari pengoperasian pesawat di rute penerbangan internasional, Alvin memandang Garuda perlu melakukan pembaruan terhadap aset alat produksi perseroan.

Dia menyebutkan manajemen perlu menimbang peremajaan armada lama berjenis Boieng 737 yang saat ini usianya telah memasuki 8 tahun-10 tahun.
"Ini sudah waktunya ditinjau kembali, apakah tetap akan digunakan atau diganti yang baru yang lebih efisien," ujarnya.

Dalam laporan keuangan restatement Garuda Indonesia 2018, perusahaan mencatatkan net loss atau kerugian bersih sebesar US$175,028 juta atau Rp2,45 triliun dengan asumsi nilai tukar Rp14.000. Laporan ini berubah dari ekspose sebelumnya yang menyatakan bahwa perusahaan itu mengalami laba sebesar US$5,018 juta atau RP70,25 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penerbangan garuda indonesia

Sumber : Tempo.co

Editor : Hendra Wibawa

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top