Cadangan Batu Bara Diprediksi Habis 20 Tahun Lagi, Ini Alasannya!

Kasubdit Bimbingan Usaha Batubara Kementerian ESDM Heriyanto mengatakan sumber daya batu bara Indonesia saat ini berjumlah 113 miliar ton dengan cadangan terbukti mencapai 33 miliar ton.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 22 Januari 2020  |  19:24 WIB
Cadangan Batu Bara Diprediksi Habis 20 Tahun Lagi, Ini Alasannya!
Salah satu lokasi pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. - Bisnis/Rachmad Subiyanto

Bisnis.com, JAKARTA - Cadangan komoditas batu bara diperkirakan habis dalam 20 tahun mendatang apabila produksi batu bara setiap tahunnya terus mengalami naik. 

Dalam 2 tahun terakhir produksi batu bara Indonesia terus mengalami peningkatan yakni mencapai 550 juta ton di 2018 dan mencapai 610 juta ton pada tahun lalu.  Tingginya produksinya ini berbanding terbalik dengan minimnya eksplorasi batu bara yang dilakukan. 

Kasubdit Bimbingan Usaha Batubara Kementerian ESDM Heriyanto mengatakan sumber daya batu bara Indonesia saat ini berjumlah 113 miliar ton dengan cadangan terbukti mencapai 33 miliar ton.

Menurutnya, tidak ada eksplorasi dan temuan cadangan baru yang signifikan dalam 10 tahun terakhir yang mampu meningkatkan cadangan batu bara Indonesia. 

"Cadangan batu bara diperkirakan akan habis tahun 2040. Ini akan habis kalau tidak melakukan eksplorasi. Cadangan hari ini tidak pernah bertambah, kalau cadangan kan artinya sudah terbukti bisa ditambang dan memiliki nilai ekonomi," ujarnya, belum lama ini. 

Menurutnya, tidak adanya eksplorasi baru dan tingginya produksi setiap tahun yang mencapai angka 500 juta ton hingga 600 juta ton membuat cadangan batu bara sebanyak 33 miliar ton ini akan habis sebelum ekspor batu bara akan disetop tahun 2045. 

Dia mengungkapkan terdapat kendala untuk melakukan eksplorasi baru menemukan cadangan baru batu bara. Hal itu dikarenakan sumber-sumber baru berada di wilayah hutan yang nota bene tak dalam dilakukan eksplorasi karena merupakan wilayah konservasi. "Di hutan tidak boleh lakukan eksplorasi dan harus memiliki izin terlebih dahulu," katanya.  

Selain itu, besarnya biaya investasi untuk melakukan eksplorasi menjadi kendala bagi para perusahaan. Pasalnya, pengusaha lebih memiliki menggali dan mengeksplorasi di lokasi tambang saat ini ketimbang mencari lokasi baru. 

"Pemerintah melakukan eksplorasi dengan menggunakan dana APBN itu jelas enggak mungkin. Perusahaan lebih memilih eksplorasi wilayah tambang mereka ketimbang wilayah baru," ucapnya. 

Untuk meningkatkan cadangan batu bara Indonesia, lanjutnya, diperlukan basis data yang kuat dalam mendukung pertambangan. "Ini perlu kemudahan perizinan dalam rangka peningkatan eksplorasi," ujar Heriyanto. 

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar tak menampik eksplorasi baru komoditas batu bara terbilang minim. 

"Di kami, eksplorasi wilayah tambang baru tidak terlalu mencapai prioritas. Ini karena Badan Geologi telah melakukan penyelidikan umum," katanya kepada Bisnis, Rabu (22/1/2020). 

Badan geologi, lanjutnya, hanya menambah kualitas level data apabila diperlukan atas usulan ditjen minerba untuk kepentingan rekomendasi Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP). 

Adapun, persebaran cadangan dan sumber daya batu bara paling besar yakni 64,5% berada di Kalimantan, lalu Sumatera sebesar 35,3%, Sulawesi 0,03%, Jawa 0,03%, Papua dan Maluku 0,08%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, kementerian esdm

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top