Adopsi Teknologi 5G di Sektor Manufaktur Perlu Dipacu

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar mengatakan sektor yang baru mengadopsi jaringan tersebut adalah industri data center dan telekomunikasi.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  14:04 WIB
Adopsi Teknologi 5G di Sektor Manufaktur Perlu Dipacu
Ilustrasi teknologi 5G. - REUTERS/Yves Herman

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri menyatakan adopsi jaringan 5G untuk sektor manufaktur masih rendah. Pasalnya, umur teknologi tersebut di dalam negeri masih sangat muda.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar mengatakan sektor yang baru mengadopsi jaringan tersebut adalah industri data center dan telekomunikasi. Adapun, sebagian besar pelaku industri manufaktur masih memilih menggunakan jaringan 4G dalam proses produksinya.

"Saya pikir ini satu teknologi yang relatif baru. Saya tidak terlalu yakin kalau [banyak pabrikan yang menggunakannya]," ujarnya kepada Bisnis, Senin (13/1/2020).

Kendati demikian, Sanny mengatakan pihaknya mendukung pembangunan fasilitas tersebut di kawasan industri. Menurutnya, fasilitas tersebut dapat meningkatkan kualitas sarana dan prasarana kawasan industri.

Sanny menyampaikan pendirian fasilitas jaringan 5G tersebut tergantung pada inisiatif pengelola masing-masing kawasan industri. Sanny menilai seharusnya pengelola kawasan mengakomodasi pembangunan jaringan tersebut jika investor maupun tenant kawasan memintanya.

Sebelumnya, Head of APAC GSMA Julian Gorman mengatakan operator kesulitan dalam mendapat izin membangun jaringan seperti menarik kabel dan memasang base transceiver station (BTS) di kawasan industri, sehingga implementasi 5G menjadi terhambat. 

Adapun Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik (Akida) Michael Susanto Pardi menyampaikan pabrikan kimia dasar anorganik baru akan memanfaatkan jaringan 5G pada 2021-2022. Saat ini, ujarnya, pabrikan sedang mengumpulkan data secara digital agar bisa diolah oleh kecerdasan buatan (artificial intelegent/AI) untuk meningkatkan produktivitas.

"Menurut saya, kami sekarang dalam proses adopsi [teknologi] industri 4.0. Digitalisasinya ada yang sudah [melakukan] dan ada yang baru tahap pengumpulan data digital," katanya kepada Bisnis.

Michael menyatakan sebagian pabrikan sudah menggunakan perangkat internet of things (IoT) dalam proses produksi. Namun, ketersediaan perangkat IoT yang sesuai dengan kebutuhan pabrikan masih parsial dan memakan investasi tinggi.

Michael menilai perlu waktu agar adopsi perangkat IoT dilakukan secara penuh mengingat perangkat IoT akan lebih ekonomis sejalan berjalannya waktu. "Seperti panel surya, tambah lama tambah murah dan terjangkau."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri manufaktur

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top