Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kinerja Manufaktur Diprediksi Menguat pada Kuartal IV/2020

Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan iklim ekonomi dan investasi dunia masih akan sulit pada tahun ini.
Buruh mengecek lembaran karet yang baru saja dicetak di pabrik pengolahan karet Perusahaan Daerah Citra Mandiri Jawa Tengah (PD CMJT), Tlogo, Tuntang, Kabupaten Semarang, Jateng./ANTARA
Buruh mengecek lembaran karet yang baru saja dicetak di pabrik pengolahan karet Perusahaan Daerah Citra Mandiri Jawa Tengah (PD CMJT), Tlogo, Tuntang, Kabupaten Semarang, Jateng./ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan pertumbuhan sektor manufaktur baru akan terasa pada kuartal IV/2020 seiring dengan berlakunya omnibus law.

Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani mengatakan iklim ekonomi dan investasi dunia masih akan sulit pada tahun ini. Namun, Shinta meramalkan iklim manufaktur di dalam negeri akan membaik dengan berbagai kebijakan insentif pajak terkait investasi.

“Kuncinya, Indonesia harus sukses mengubah iklim usaha dan investasi nasional agar setidaknya menjadi semudah, seefisien, dan sekondusif iklim usaha dan investasi negara pesaing,”  katanya kepada Bisnis, Selasa (7/1/2020).

Shinta menilai perubahan iklim usaha dan investasi tersebut dapat terwujud dengan adanya deregulasi, debirokratisasi, dan peningkatan konsistensi pelaksanaan kebijakan pendukung kinerja pabrikan. Dengan demikian, ujarnya, investasi ke sektor manufaktur dapat lebih tinggi dan berkualitas pada tahun depan.

Wakil Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Ismail Mandry mengatakan pertumbuhan produksi baja pada tahun ini tidak akan lebih tinggi dari 5%. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh kondisi perekonomian global dan nasional yang akan tertekan sepanjang tahun ini.

“Saya berharap lebih dari 4%, tapi tidak sampai 5%. Jadi [proyeksi tersebut] sebuah angka yang sebenarnya menggambarkan [perekonomian] secara global tidak begitu nyaman. Kita coba untuk bertahan [tahun ini],” katanya keada Bisnis.

Ismail meramalkan permintaan pada kuartal I/2020 akan lebih rendah dari tahun lalu. Pasalnya, industri baja nasional dihadapkan dengan bulan puasa, cuaca ekstrem, permintaan yang sudah rendah secara historis pada kuartal I/2020.

Kendati demikian, Ismail optimistis permintaan pada produk long baja akan stagnan. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh mulai berjalannya proyek konstriksi pemerintah dan membaiknya sentimen pengembang dalam membangun bangunan high rise.

Selain itu, Ismail berpendapat perencanaan ibu kota baru akan memberikan efek yang positif bagi industri baja konstruksi. “Hanya [industri] baja belum [masuk] negative list. Kami harapkan jangan sampai itu dipakai untuk buka pabrik baru  sementara [pabrik] yang lama tidak dikembangkan,” ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Andi M. Arief
Editor : Galih Kurniawan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper