Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pembiayaan Berkelanjutan di Indonesia Cenderung Lamban

WWF Singapore menilai Indonesia adalah negara di Asia Tenggara dengan pertumbuhan sektor finansial untuk pembiayaan berkelanjutan yang cenderung lamban.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 14 Desember 2019  |  05:00 WIB
Karyawan menata uang rupiah di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Rabu (10/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan menata uang rupiah di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Rabu (10/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – WWF Singapore menilai Indonesia adalah negara di Asia Tenggara dengan pertumbuhan sektor finansial untuk pembiayaan berkelanjutan yang cenderung lamban.

Jeanne Stampe, WWF Head of Asia Sustainable Finance, menyatakan dalam 18 bulan terakhir regulator di sejumlah negara Asia Tenggara sudah memberikan pernyataan bahwa sektor perbankan siap terlibat dalam upaya menjaga perubahan iklim dan krisis lingkungan. Dua hal itu diyakini akan menjadi prioritas bagi sektor finansial ke depannya.

“Meski perspektif positif ini menguat, perbankan di Asia Tenggara seharusnya lebih proaktif dan tidak tergantung pada regulasi untuk merealisasikan portofolio mereka dan peluang usaha dalam transisi menuju ekonomi berkelanjutan,” ujar Jeanne dikutip dari laporan yang diterima Bisnis, Jumat (13/12/2019).

Jeanne yang juga merupakan founder of the Asia Sustainable Finance Initiative menilai, asosiasi perbankan lintas Asia Tenggara kini memiliki peran penting untuk memfasilitasi perubahan industri perbankan, yang mana perlu peningkatan kapasitas para anggota perbankan dengan praktik kerja baru.

Dia memerinci, secara umum dari lima negara yang disurvei oleh WWF, perbankan di Indonesia harus meningkatkan integrase pada konsep E&S dan praktik baru aturan perbankan untuk ekonomi berkelanjutan.

Jeanne menjelaskan, perbankan komersil berskala besar menebitkan Sustainable Finance Action Plans perdana mereka ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Adapun perencaan itu memerinci perihal strategi sustainability dan langkah-langkah implementasi, dan akan mulai juga mempublikasikan Sustainability Reports Banks mulai 2020.

Beberapa perbankan, kata Jeanne, sudha merencanakan untuk mengembangkan kebijakan dan prioritasnya pada sektor industri sawit, meskipun POJK51 tidak memprediksikan perbankan akan mengembangkan sistem E&S pada sektor industri yang spesifik.

Saat ini, OJK juga belum memprakirakan perbankan akan meningkatkan ekspor portofolio guna meningkatkan eksposur perbankan terhadap risiko iklim. Meski demikian, kini Bank Indonesia sebagai pemangku kebijakan moneter di Indonesia, telah mengukuhkan komitmen pada pembangunan berkelanjutan dengan keterlibatan dalam Sistem Penghijauan Keuangan atau Network for Greening the Financial System (NGFS) terhitung sejak 6 November 2019.

Adapun keanggotaan BI dalam NGFS sejalan dengan komitmen Indonesia pada Paris Agreement dan Sustainable Development Goals (SDGs). NGFS bertujuan untuk mendefinisikan dan mempromosikan praktek dan analisis terbaik terkait pembiayaan hijau atau green financing guna mencapai pertumbuhan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembiayaan
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top