Target Inflasi Hingga Akhir Tahun Diperkirakan Terkendali

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan sampai akhir tahun 2019 inflasi akan tetap stabil, rendah, dan terkendali di bawah estimasi awal 3,41%. Dia menyebut, target ini juga berada lebih rendah, dan lebih baik dari target Bank Indonesia sebesar 2,5% sampai 4,5% tahun ini.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  17:57 WIB
Target Inflasi Hingga Akhir Tahun Diperkirakan Terkendali
Ilustrasi - hargababel.com

Bisnis.com, JAKARTA – Inflasi November 2019 yang tercatat hanya 0,14%, jauh dari prediksi sejumlah ekonom dan konsesus market, memberi angin segar bagi tercapainya target inflasi tahun ini di bawah 3,41%.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan sampai akhir tahun 2019 inflasi akan tetap stabil, rendah, dan terkendali di bawah estimasi awal 3,41%. Dia menyebut, target ini juga berada lebih rendah, dan lebih baik dari target Bank Indonesia sebesar 2,5% sampai 4,5% tahun ini.

Dia memerinci, pihaknya sempat memprediksi inflasi November akan berada pada angka 0,22% (mtm) lebih tinggi sedikit dari rata-rata konsesus market yang memprediksi 0,20% (mtm). Namun realisasi 0,14% yang cukup jauh meleset dari prediksi ini menandakan hanya sejumlah komoditas pangan saja yang terkerek harganya.

“Misalnya barang merah, tomat, daging ayam, dan telur ayam. Harga rokok kretek dan filter, juga harga sewa rumah termasuk golongan yang menyumbang inflasi bulan ini,” jelas Andry, Senin (2/12/2019).

Dia menyatakan, dari tujuh kelompok pengeluaran, hanya transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang menunjukkan penurunan harga atau deflasi sebesar -0,07% (mtm).

Dengan pencatatan inflasi 3,00% (yoy), lebih rendah dari Oktober sebesar 3,13% (yoy), maka posisi inflasi saat ini juga sudah berada di bawah ekspektasi awal sebesar 3,08% (yoy), dan prediksi market 3,06% (yoy).

Untuk inflasi inti, kata Andry, terdiri dari volatile food dan administered prices terpantau menjadi 3,08% (yoy), turun dari Oktober 2019 sebesar 3,20% (yoy), akibat menurunnya harga emas bulan lalu.

“Secara kumulatif Januari sampai November 2019, inflasi sekitar 2,37%, lebih rendah dari year-to-date yang sama 2018, sebesar 2,47%,” ujar Andry.

Meski demikian, dia menilai tetap harus waspada pada Desember 2019 dimana secara musiman inflasi akan cenderung naik dipicu oleh hari libur akhir tahun, dan perayaan Tahun Baru.

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto menambahkan, pola musiman inflasi selalu akan mengalami kenaikan setiap Idulfitri di pertengahan tahun, dan juga pada akhir tahun jelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Dia menilai, keunikan yang sudah terjadi saat ini adalah inflasi yang disumbang dari rokok kretek dan filter akibat wacana kenaikan cukai rokok.

“Sejak September rokok kretek dan kretek filter selalu sumbang inflasi 0,01% saya pikir di kalangan pedagang sudah antisipasi kenaikan pada Januari maka pedagang tak akan naikkan secara langsung, tetapi sudah gradual,” jelas Suhariyanto.

Dia menyatakan, dari hasil pendataan BPS, kenaikan harga rokok terjadi pada 50 kota dari 82 kota. Adapun kenaikan tertinggi di Sibolga naik 4%, serta di beberapa kota seperti di Tegal, Madiun, Semarang, Pontianak, dan Bekasi naik 5% .

Dia menambahkan, jelang Natal dan Tahun Baru, harga gabah dan harga beras eceran diprediksi masih tetap stabil. Sebaliknya, di luar pangan kelompok pengeluaran lain yang akan menyumbang inflasi Desember nanti adalah angkutan udara, karena banyaknya orang yang akan bepergian pada akhir tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top