PMI November Tak Sesuai Harapan, Tekanan di Sektor Manufaktur Belum Mengendur

IHS Markit mencatat PMI Indonesia pada November 2019 naik ke level 48,2 dari bulan sebelumnya 47,7. Namun, kenaikan tersebut tetap menunjukkan bahwa sektor manufaktur nasional masih berkontraksi lantaran masih di bawah level 50,0.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  19:34 WIB
PMI November Tak Sesuai Harapan, Tekanan di Sektor Manufaktur Belum Mengendur
ilustrasi. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Purchasing Manager’s Index (PMI) Indonesia secara konsisten berada di bawah level 50,0 sejak awal semester II/2019 hingga medio kuartal IV/2019. Tekanan pada sektor manufaktur pun diperkirakan akan berlanjut hingga akhir tahun.

IHS Markit mencatat PMI Indonesia pada November 2019 naik ke level 48,2 dari bulan sebelumnya 47,7. Namun, kenaikan tersebut tetap menunjukkan bahwa sektor manufaktur nasional masih berkontraksi lantaran masih di bawah level 50,0.

“Kalau kami lihat dari kondisi manufaktur di dalam negeri memang tidak begitu tinggi dari aspek produksinya karena demand industri dalam negeri maupun dari luar negeri mengalami perlambatan. PMI-nya tidak terlalu tinggi seperti yang kami harapkan,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono kepada Bisnis, Selasa (2/12/2019).

Sigit mengatakan pihaknya mengharapkan agar pertumbuhan sektor manufaktur besar dan menengah dapat berada di atas 5%. Namun, kondisi perekonomian di dalam dan luar negeri yang menurun membuat Kementerian menurunkan targetnya menjadi di kisaran 4,5% — 5% pada akhir tahun ini.

Menurut Sigit, kontribusi sektor manufaktur ke pendapatan domestik bruto (PDB) pada tahun ini masih akan berada di level 19%. Kontribusi sektor manufaktur pada PDB terus menurun sejak 2015. Adapun, kontribusi manufaktur ke PDB pada tahun lalu turun 30 basis poin secara tahunan menjadi 19,86%.

Kendati demikian, Sigit memperkirakan kontribusi sektor manufaktur ke PDB dapat kembali ke level 20%. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh beberapa perubahan regulasi yang diharapkan bisa memperbaiki iklim investasi ke dalam negeri yang pada akhirnya memperbaiki kinerja ekspor nasional.

Principal Economist IHS Markit Bernard Aw menyatakan rendahnya PMI Indonesia pada November menberikan sinyal perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2019. Dia mengatakan PMI sepanjang kuartal IV/2019 masih konsisten dengan proyeksi pertumbuhan PDB sebesar 4,9% pada kuartal IV/2019.

Menurutnya, volume produksi sektor manufaktur masih akan melemah hingga beberapa bulan ke depan. Pelemahan tersebut, lanjutnya, ditunjukkan dengan penurunan volume permintaan baru pada pabrikan, pelemahan tren penjualan, dan penurunan kebutuhan pekerja oleh pelaku industri.

Bernard dalam laporannya memaparkan sebagian besar pelaku industri meramalkan volume produksi pada tahun depan akan lebih baik dari tahun ini. Menurutnya, optimisme tersebut berasal dari perencanaan ekspansi pasar nasional, aktivitas promosi, dan peningkatan kualitas produk manufaktur.

“Prospek jangka panjang terlihat cerah. Indeks Produksi Masa Depan menempati posisi tertinggi dalam lima bulan terakhir. Hal tersebut meningkatkan keyakinan bisnis para pelaku industri,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri manufaktur

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top