Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Meneroka Keandalan Transportasi Kepri untuk Kemajuan Ekonomi dan Pariwisata Negeri

Dalam kurun waktu 5 tahun ini, kementrian Perhubungan telah melakukan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris untuk membuka keterisolasian yaitu dengan memberikan dukungan aksesibilitas terhadap daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal dan Perbatasan). Salsah satunya adalah wilayah-wlayah perbatasan di Provinsi Kepri.
Lina W. Sasmita
Lina W. Sasmita - Bisnis.com 28 November 2019  |  12:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Sebagai wilayah yang berada di batas utara negeri bahari ini, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) merupakan gerbang sekaligus wajah Indonesia yang pertama kali terlihat di mata negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam dan Filipina. Baik buruknya Indonesia di mata mereka, tentu akan dengan mudah dinilai dari baik buruknya provinsi yang 96% wilayahnya ini merupakan lautan.

Oleh sebab itu, tak heran jika Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, memberi perhatian khusus dengan berkomitmen untuk terus membangun pulau-pulau terluar guna memperkuat daerah-daerah perbatasan seperti Kepri baik dari segi transportasi, ekonomi, pariwisata maupun pertahanan keamanan.

Kepri dan wilayah-wilayah cross border lainnya merupakan beranda Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berhadapan langsung dengan negara-negara tetangga. Karena itu, sejak 5 tahun terakhir, pemerintah memang terlihat sangat serius membangun wilayah-wilayah perbatasan dengan melakukan berbagai pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, pelabuhan dan bandara. Menjadikan wilayah-wilayah perbatasan yang dikenal dengan sebutan 3TP (Terdepan, Terluar dan Tertinggal Perbatasan) ini tidak lagi menjadi halaman belakang namun sebagai garda terdepan yang akan menjadi pintu gerbang masuknya arus wisatawan dari negara-negara tetangga.

Sebagai provinsi yang sebagian besar wilayahnya diliputi oleh lautan, kendala utama dari aktivitas dan mobilitas masyarakat Kepri adalah dari segi transportasi. Wilayah-wilayah terpencil seperti Kabupaten Anambas, Natuna dan Lingga sangat terpengaruh oleh faktor cuaca sehingga jika sedikit saja terjadi hambatan seperti musim angin utara tiba, maka transportasi laut seperti fery dan kapal perintis akan terkendala. Hal ini tentu saja sangat mengganggu kelancaran pergerakkan warga, arus barang, pasokan bahan pangan dan juga jumlah wisatawan yang akan masuk ke kabupaten-kabupaten tersebut.

Perkembangan Transportasi di Kabupaten Anambas, Kepri
Sebagai warga yang tinggal di Batam Kepri, saya dan rekan-rekan traveler sangat mendambakan untuk pergi liburan ke Anambas. Sebagai wilayah yang di dalamnya terdapat salah satu pulau tropis terbaik di dunia, Anambas sangat memikat hati siapa saja terutama para pecinta surga tersembunyi, para penyuka olahraga selam dan dunia bahari, serta para turis yang menyukai sepi dan menyendiri.

Dahulu, tidak mudah jika ingin berangkat ke Anambas dari Batam. Karena kami harus menyebrang terlebih dahulu ke Tanjungpinang, menginap semalam dan baru keesokan paginya berangkat ke Anambas dengan menaiki kapal fery dengan waktu tempuh 8-10 jam perjalanan. Oleh sebab itu kami kerap terkendala waktu dan transportasi mengingat perjalanan dari Batam ke Anambas sangat menyita waktu, tenaga dan biaya.

Pelayaran fery ke Anambas pun bisa lancar jika kondisi cuaca bersahabat. Jika angin utara tiba, maka pelayaran akan praktis ditunda atau dibatalkan. Tidak akan ada kapal yang datang ke Anambas jika laut sedang mengamuk. Terkadang warga kehabisan bahan pangan sehingga stok kebutuhan pokok di toko dan warung-warung di pulau-pulau di Anambas melambung karena tingginya permintaan namun minim pasokan. Selain berdampak pada ekonomi warga, hal tersebut tentu menghambat kemajuan pariwisata di Anambas.

Namun, kabar yang membahagiakan itu tiba di tahun 2016 hingga sekarang. Kami tidak perlu risau lagi dengan lamanya waktu tempuh Batam - Tanjungpinang - Anambas karena telah hadirnya Bandar Udara Letung di sana. Sebagai pekerja yang harus bekerja 5 hari dalam seminggu, waktu liburan kami ke Anambas akan lebih efektif dan efisien dengan menggunakan pesawat terbang langsung dari Batam ke Letung yang hanya ditempuh dalam waktu 1 jam.

Kabupaten Kepulauan Anambas merupakan salah satu wilayah Terluar, Terdepan dan Tertinggal Perbatasan sehingga menjadi salah satu titik fokus untuk pembangunan infrastruktur terutama pembangunan bandar udara oleh pemerintah pusat. Oleh sebab itu, pada tahun 2014 dimulailah pembangunan Bandar Udara Letung yang didanai APBN dengan total investasi sebesar Rp 200 Miliar. Pada 2016 bandara ini telah rampung dan sudah mulai uji coba dengan mendatangkan sejumlah maskapai penerbangan komersil.

Sebagai komitmennya pada pola pembangunan di wilayah 3 TP, maka pada 14 Oktober 2019 Menteri Perhubungan Budi Karya meresmikan Bandar Udara Letung yang terletak di Pulau Jemaja, Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Anambas. Dikutip dari akun instagram resmi Kementrian Perhubungan, @kemenhub151, pada persmian ini Menhub mengatakan kehadiran Bandar Udara Letung diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan potensi pariwisata di salah satu pulau terluar Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Wisata Laut Nasional. Selain itu pembangunan Bandar Udara Letung merupakan wujud nyata dari kehadiran pemerintah dalam mewujudkan konektivitas dan juga pembangunan infrastruktur yang indonesia sentris.

Tidak saja kami warga Batam yang menyambut gembira, warga Pulau Jemaja pun merasakan kebanggaan dan kebahagiaan yang sama karena kehadiran bandara ini. Secara ekonomi mereka banyak diuntungkan. Kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara ke sana meningkat. Hotel dan penginapan terisi, warung makan selalu ada yang beli, kedai-kedai kopi di pagi hari tak lagi sepi, souvenir dan oleh-oleh khas Anambas pun banyak dicari.

Seorang kenalan saya dari Letung, Gusdi Munandar yang berprofesi sebagai pemandu wisata hampir setiap hari mengirimi kami foto-foto ia bersama bule-bule dari berbagai negara yang berkunjung silih berganti ke Anambas melalui Bandar Udara Letung. Saya yang menyaksikannya sangat bahagia. Kini warga Anambas sedang menyongsong era kemajuan pariwisata yang sebentar lagi tiba.

Dengan adanya Bandar Udara Letung, sebagai Maldives-nya Indonesia Bagian Barat, sudah saatnya bagi Anambas berbenah diri guna menyambut euforia kaum milenial yang kini telah mengubah pasar nasional dan internasional sebagai kaum yang hobby traveling, mengunjungi tempat-tempat eksotis seperti Anambas yang belum tampil di feed instagram mereka.

Perkembangan Transportasi di Kabupaten Natuna, Kepri

Medio tahun 2000an, belum ada penerbangan sipil menuju salah satu pulau terluar Indonesia, Natuna. Hanya pesawat-pesawat charter, kargo dan hercules milik TNI yang terkadang berbaik hati mengangkut sebagian warga yang hendak berobat ke Tanjungpinang dan Batam. Namun seiring dibangun dan dibukanya beberapa bandara untuk penerbangan sipil di wilayah-wilayah perbatasan, perlahan Natuna pun membuka diri. Sebut saja dengan dibukanya rute baru penerbangan komersil Wings Air dan Sriwijaya Air dari Batam ke Ranai Natuna pada 2014, telah mampu memangkas waktu tempuh Batam/Tanjungpinang – Natuna yang tadinya lebih dari 24 jam dengan menaiki kapal menjadi 1 jam 40 menit dengan pesawat komersil tersebut.

Berkembangnya jalur udara dari Batam dan Tanjungpinang menuju Natuna, semakin berdampak pada tingkat kemajuan ekonomi dan pariwisata di Kabupaten Natuna. Terlebih pada penghujung tahun 2018 lalu, Natuna telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional dimana sedikitnya terdapat 8 titik geopark yang tersebar di seluruh kabupaten Natuna seperti Tanjung Datuk, Gunung Ranai, Pulau Setanau, Pulau Akar, Batu Kasah, Senubing, Pulau Senoa dan Goa Bamak. Tempat-tempat tersebut dipilih karena merupakan kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi.

Geopark Natuna bertujuan sebagai wadah konservasi dan edukasi. Selain itu penetapan geopark ini diharapkan mampu meningkatkan kegiatan ekonomi serta pariwisata di Natuna. Dengan didukung oleh jalur transportasi yang lancar maka bukan tidak mungkin jika tingkat kunjungan wisatawan ke Natuna baik lokal maupun mancanegara akan semakin meningkat.

Selain itu saat saya bertemu dengan Kepala Dinas Pariwisata Natuna Bapak Erson Gempa Afriadi di Ranai pada Agustus 2018 silam, Ia menegaskan bahwa Natuna sedang fokus pada pengembangan 3 bidang kepariwisataan yakni Marine, Ekowisata dan Arkeologi Marine atau beliau singkat dengan sebutan MEA Tourism. Ia menerangkan bahwa perairan Natuna yang telah berabad-abad lamanya menjadi jalur perdagangan internasional memiliki sedikitnya 24 situs kapal karam (ship wreck) yang mengandung barang-barang antik dan bersejarah. Oleh sebab itu keterhubungan antara transportasi udara ke Natuna dengan peningkatan turis yang akan menyelam di titik wreck ship bisa saja berbanding lurus.

Perkembangan Transportasi di Kabupaten Bintan, Kepri
Dari tahun ke tahun, infrastruktur di Pulau Bintan, terutama jalan-jalan yang menghubungkan satu wilayah kecamatan dengan kecamatan lainnya makin membaik. Jika teman-teman berkunjung ke Bintan, bisa disaksikan bahwa hampir semua jalan antar kecamatan beraspal mulus dan lebar.

Pembangunan jalan-jalan baru pun terus digesa supaya selesai tepat waktu dan dapat digunakan warga untuk mobilitas. Jalan-jalan yang mulus dan lebar ini juga telah berkali-kali digunakan sebagai lokasi berbagai iven sport tourism berskala internasional yang mendatangkan ribuan wisatawan ke Bintan. Sebut saja Iron Man, Bintan Triathlon, Tour de Bintan (Grand Fondo) dan Bintan Marathon.

Seluruh aktivitas utama sport tourism di Bintan ini menggunakan jalan-jalan besar sebagai sarana lomba sehingga kenyamanan dan keamanan para peserta lomba yang melalui jalan-jalan ini harus terjamin. Oleh sebab itu pemerintah berkomitmen unutk terus memperbaiki jalan-jalan besar di kabupaten Bintan sehingga setiap tahunnya dari bulan ke bulan bisa digunakan untuk iven berkelas dunia seperti di atas.

Perkembangan Transportasi di Kota Batam, Kepri

Walikota Batam bersama jajarannya dari dinas perhubungan, dalam berbagai kesempatan kerap menyatakan bahwa pemerintah sangat berkomitmen untuk menyediakan fasilitas jalan raya yang baik, mulus dan lebar sehingga dengan bagusnya sarana perhubungan ini akan berpengaruh kepada tingkat kunjungan wisatawan ke Batam.

Terlebih kini Batam dinyatakan oleh walikota sebagai Kota Pariwisata sehingga infrastruktur jalan raya terutama dari Bandar Udara Hang Nadim ke pusat kota dan dari pelabuhan-pelabuhan internasional Sekupang, Batam Center, Harbourbay, Waterfront Nongsapura ke berbagai wilayah lainnya di batam harus dalam kondisi mulus dan bagus. Mengingat sektor sektor industri manufaktur dan galangan kapal yang selama ini menjadi primadona di Batam mengalami kelesuan.

Maka jika teman-teman berkunjung ke Batam, mungkin akan terkesima dengan kondisi jalan-jalan di kota ini yang mulus dan lebar-lebar. Beberapa teman dari Jakarta yang berkunjung berkali-kali menyatakan ketakjubannya. Bahkan seorang teman jurnalis dari Malaysia kaget melihat saya bersepeda di jalan sepi namun mulus tanpa bolong-bolong di kawasan Barelang sana.


Perbaikan sarana transportasi baik darat, laut dan udara di Batam rupanya tidak sia-sia. Terbukti jumlah kunjungan wisman ke Batam sepanjang Januari hingga September 2019 meningkat sebanyak 1.431.166 kunjungan, dibandingkan dengan periode sebelumnya yang berkisar 1.357.471 kunjungan.

Perkembangan Transportasi di Kabupaten Lingga, Kepri
Sebagai seorang pejalan yang suka menjelajah wilayah-wilayah di Kepri saya, saya melihat jelas perubahan yang terjadi di salah satu kabupaten paling selatan di wilayah Kepri ini, Kabupaten Lingga. Kabupaten yang terdiri dari ratusan pulau dengan dua pulau besar yang paling mudah dikenali yakni Pulau Lingga dan Pulau Singkep.

Lingga termasuk wilayah yang terpencil dan terisolir. Dahulu sebelum dibangunnya dermaga di Pelabuhan Sei Tenam, rute pelayaran Tanjungpinang menuju Lingga harus melalui Pelabuhan Jago di Pulau Singkep terlebih dahulu. Dari sana baru kemudian naik speed boat ke Pelabuhan Tanjung Buton di Daik Lingga. Namun seiring dibangunnya Pelabuhan Sei Tenam yang berada di ujung utara Pulau Lingga, kini kapal fery baik dari Batam maupun Tanjungpinang bisa berlabuh di pelabuhan tersebut. Rute baru ini mampu memangkas waktu tempuh di laut 1-2 jam lebih cepat.

Sebagai wilayah yang mempunyai julukan Bunda Tanah Melayu, Lingga mempunyai banyak situs bersejarah yang berasal dari Kesultanan Riau Lingga. Beberapa situs yang dapat kita kunjungi diantaranya seperti: 1. Gerbang Istana Damnah; 2. Makam Raja Muhammad Yusuf; 3. Museum Linggam Cahaya; 4. Lokasi Istana Kota Baru; 5. Lokasi Istana Damnah (situs); 6. Replika Istana Damnah; 7. Lokasi Bilik 44 (situs); 8. Makam Bukit Cengkeh; 9. Tempat Pemandian Tengku Ampuan; dan 10. Tempat Pemandian Lubuk Papan.

Dahulu, jika kami hendak ke Lingga harus melalui Tanjungpinang. Kini, Batam - Lingga sudah mempunyai rute tersendiri dengan frekuensi sekali sehari. Pembukaan rute ini semakin mendorong warga Batam yang memiliki jumlah penduduk terpadat di Kepri untuk melakukan piknik dan bertamasya ke Kabupaten Lingga karena terdapat fery langsung sekali naik tanpa transit. Tidak lagi harus melalui rute dari Tanjungpinang yangmemutar.

Selain itu, kabar terbaru dari dunia penerbangan adalah dibukanya rute penerbangan komersil Wings Air Batam - Dabo Singkep (Lingga) pada 1 Oktober 2019 lalu untuk mendukung perjalanan wisata ke kawasan Dabo Singkep yang memiliki panorama alam yang instagenic.

Kesimpulan
Dalam kurun waktu 5 tahun ini, kementrian Perhubungan telah melakukan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris untuk membuka keterisolasian yaitu dengan memberikan dukungan aksesibilitas terhadap daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal dan Perbatasan). Salsah satunya adalah wilayah-wlayah perbatasan di Provinsi Kepri.

Pencapaian penyediaan prasarana yang telah dilakukan Kemenhub diantaranya yaitu 18 rute tol laut; 891 trayek angkutan perintis (angkutan jalan, sungai dan penyebrangan, kereta api, laut dan udara); Pembangunan dan pengembangan 131 bandara di daerah rawan bencana, perbatasan dan terisolir.

Semoga saja dengan meningkatnya sarana transportasi di Kepri mampu memberikan sumbangsih yang berarti bagi negeri melalui peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara. Dan sudah terbukti pada kuartal kedua tahun ini, Kepri menjadi pintu masuk dengan tingkat kunjungan wisatawan terbanyak kedua setelah Bali, mengalahkan Jakarta. Jadi perkembangan transportasi dari Kepri adalah untuk kemajuan Negeri Indonesia.

Untuk melihat capaian lainnya dari Kementrian Perhubungan teman-teman bisa membuka website resmi dan akun-akun media sosial dari Kementrian Perhubungan berikut ini:

Website resmi: http://www.dephub.go.id/
Instagram: @kemenhub151
Twitter: @kemenhub151
Facebook: Kementrian Perhubungan RI
Youtube: Kementrian Perhubungan RI

Referensi:
1. https://koranperbatasan.com/natuna-bakal-punya-bandara-baru-berkelas-internasional-iskandar-sedang-disiapkan-fs-nya-untuk-diajukan-ke-pusat/
2. https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/ritel/14/04/02/n3ee8l-sriwijaya-ambil-alih-rute-sky-batamnatuna
3. https://www.idnnews.id/ditetapkan-sebagai-geopark-nasional-natuna-mulai-berbenah/
4. https://www.instagram.com/p/B3mQ1FVBm7e/?igshid=mo0t5rs559bu
5. https://sumatra.bisnis.com/read/20191104/534/1166672/kunjungan-wisatawan-mancanegara-ke-batam-terus-meningkat

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kemenhub
Editor : Media Digital
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top