Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Tiket dan Gempa Bikin Jumlah Penumpang di Bandara Lombok Turun 24 Persen

PT Angkasa Pura I (Persero) Cabang Bandara Internasional Lombok, Nusa Tenggara Barat, mencatat jumlah penumpang pesawat yang datang dan berangkat selama Januari-Oktober 2019 menurun sebesar 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 November 2019  |  18:22 WIB
Suasana lengang tampak terlihat di terminal keberangkatan Lombok International Airport (LIA) di Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (16/2/2019). - ANTARA/Ahmad Subaidi
Suasana lengang tampak terlihat di terminal keberangkatan Lombok International Airport (LIA) di Praya, Lombok Tengah, NTB, Sabtu (16/2/2019). - ANTARA/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA - PT Angkasa Pura I (Persero) Cabang Bandara Internasional Lombok, Nusa Tenggara Barat, mencatat jumlah penumpang pesawat yang datang dan berangkat selama Januari-Oktober 2019 menurun sebesar 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Penurunan jumlah penumpang pesawat tersebut terjadi setelah gempa bumi NTB pada 2018," kata General Manager Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok, Nugroho Jati, di Mataram, Selasa (26/11/2019).

Ia menyebut jumlah penumpang pesawat yang datang dan berangkat dari bandara sebanyak 2.317.620 orang selama Januari-Oktober 2019. Angka tersebut menurun 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 3.059.778 orang.

Sementara, jumlah penerbangan sebanyak 22.418 kali selama Januari-Oktober 2019. Jumlah tersebut berkurang sebesar 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 31.236 penerbangan.

Berkurangnya jumlah penumpang dan penerbangan juga diikuti dengan menurunnya volume kargo. Selama Januari-Oktober 2019, jumlah volume kargo yang diangkut oleh pesawat mencapai 7.930.442 kilogram.

Angka tersebut berkurang 38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Harga Tiket

Selain faktor gempa bumi, kata Nugroho, penurunan jumlah penumpang pesawat dan frekuensi penerbangan juga dipengaruhi harga tiket pesawat yang dianggap mahal oleh konsumen. Ditambah lagi dengan kebijakan maskapai penerbangan yang memberlakukan bagasi berbayar.

"Masalah harga tiket pesawat mahal dan bagasi berbayar sempat ramai. Itu juga mempengaruhi jumlah orang bepergian menggunakan pesawat. Kalau penurunan volume kargo terkait dengan produksi dan konsumsi barang di Lombok," ujarnya.

Menurut dia, untuk meningkatkan arus penumpang dan frekuensi penerbangan dari dan ke Lombok diperlukan upaya bersama, baik oleh Angkasa Pura I, pemerintah daerah dan pemerintah pusat, serta pihak lainnya.

Angkasa Pura I sendiri tetap komitmen untuk menciptakan pasar rute-rute penerbangan baru, baik domestik maupun luar negeri. Salah satunya membuka rute penerbangan langsung untuk jamaah umroh dari Lombok ke Jeddah, Arab Saudi.

Dari sisi pemerintah, lanjut Nugroho, perlu diperbanyak penyelenggaraan kegiatan, seperti penandatanganan nota kesepahaman antara pemerintah daerah dengan kementerian/lembaga, dan berbagai pertemuan lainnya yang memicu pertumbuhan angka kunjungan ke Lombok.

"Saya kira semua pihak sudah punya upaya sesuai ruang lingkup masing-masing. Dan saya yakin pertumbuhan jumlah penumpang pesawat dan frekuensi penerbangan dari dan ke Lombok terus membaik seiring dengan proses pemulihan pascagempa bumi," katanya.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gempa angkasa pura i harga tiket

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top