Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

JUUL Labs Indonesia Usulkan Regulator Melihat Kebijakan Rokok Elektrik di Inggris

JUUL Labs Indonesia menyatakan bahwa jumlah pemakai rokok elektrik di dalam negeri masih sangat rendah jika dibandingkan
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 26 November 2019  |  15:43 WIB
Head of Communications JUUL Labs Indonesia Reza Amirul Juniarsah saat berkunjung ke Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Selasa (26/11/2019) - Bisnis/Galih Kurniawan
Head of Communications JUUL Labs Indonesia Reza Amirul Juniarsah saat berkunjung ke Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Selasa (26/11/2019) - Bisnis/Galih Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - JUUL Labs Indonesia menyatakan bahwa jumlah pemakai rokok elektrik di dalam negeri masih sangat rendah jika dibandingkan dengan perokok konvensional. Diusulkan agar regulator melihat kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris terkait distribusi rokok elektrik.

Head of Communications JUUL Labs Indonesia Reza Amirul Juniarsah mengatakan bahwa pemerintah Inggris telah berhasil mencapai target prevalensi perokok yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia 8 tahun lebih cepat.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh penerimaan rokok elektrik yang memfasilitasi perokok konvensional bertransisi untuk berhenti.

"Dari tahun 2010 mereka sudah melakukan studi tentang ini [penggunakan rokok elektronik]. Mereka [pemerintah Ingris] memiliki kebijakan bahwa kalau perokok yang ingin berhenti tapi belum bisa, beralihlah dulu ke vaping," ujarnya saat mengunjungi Wisma Bisnis Indonesia, Selasa (26/11/2019).

Reza berujar, pemerintah Inggris juga mengatur produksi industri rokok elektrik secara ketat seperti kadar nikotin, proses penjualan, dan bahan baku cairan rokok elektrik.

Adapun, Reza khawatir pemerintah lokal mengarah pelarangan produksi dan distribusi rokok elektrik lantaran terpengaruhi stigma negatif oleh kasus-kasus rokok elektrik di Amerika Serikat. Seperti diketahui, belasan remaja meninggal dunia yang diduga karena menggunakan rokok elektrik.

Dia menjelaskan bahwa hal tersebut bukan disebabkan rokok elektrik, melainkan cairan rokok elektrik yang berbahaya. Reza menjelaskan cairan yang dimaksud adalah cairan yang menandung Deskripsi Tetrahidrokanabinol (THC), vitamin E, dan aseton.

"Dioplos gampangnya dan aneh-aneh isinya," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rokok elektrik
Editor : Akhirul Anwar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top