Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menkeu Sri Mulyani : Derasnya Capital Inflow Bukti Ekonomi Indonesia Stabil

Hal ini terjadi di tengah perekonomian global yang sedang tidak stabil karena tiga hal antara lain karena perekonomian domestik Indonesia yang stabil, laju pertumbuhan yang tinggi, serta kebijakan ekonomi yang baik.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 25 November 2019  |  17:41 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani ANTARA FOTO - Wahyu Putro A
Menteri Keuangan Sri Mulyani ANTARA FOTO - Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA–Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa derasnya capital inflow yang masuk ke Indonesia menandakan bahwa perekonomian Indonesia saat ini stabil.

Hal ini terjadi di tengah perekonomian global yang sedang tidak stabil karena tiga hal antara lain karena perekonomian domestik Indonesia yang stabil, laju pertumbuhan yang tinggi, serta kebijakan ekonomi yang baik.

"Dalam bentuk saham ataupun obligasi ini kita termasuk yang menikmati capital inflow tertinggi di antara negara emerging," ujar Sri Mulyani kepada Bisnis.com, pekan lalu.

Performa perekonomian Indonesia jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Chile, Argentina, hingga Turki yang biasanya dikenal sebagai negara dengan perekonomian yang stabil.

Meski demikian, Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah memang perlu mewaspadai aliran modal masuk tersebut karena  sifatnya yang mudah berbalik arah.

Dalam hal ini, Sri Mulyani mengatakan bahwa posisi pemerintah adalah menjaga capital inflow yang deras masuk terhitung sejak kuartal II/2019 tersebut terjangkar di Indonesia dan tidak berbalik arah.

"Oleh karena itu Presiden Jokowi fokus untuk menciptakan UU yang bisa menciptakan lapangan kerja," imbuhnya.

Merujuk pada Laporan Bank Indonesia (BI), tampak bahwa pada Oktober 2019 modal asing yang masuk ke Indonesia dalam bentuk investasi portofolio mencapai US$4,7 miliar. Sebagian besar dari dana asing tersebut masuk dalam bentuk surat utang negara (SUN) berdenominasi rupiah.

Hal ini pun pada akhirnya turut memperkuat nilai tukar rupiah dimana pada November 2019 mengalami apresiasi 0,42% meski secara point to point mengalami depresiasi sebesar 0,41% dibandingkan dengan akhir Oktober 2019.

Dengan demikian, nilai tukar rupiah secara year to date hingga 20 November 2019 terapresiasi hingga 2,03% (ytd).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

capital inflow
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top