Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi 2019 Bisa 5,1 Persen

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan PDB pada kuartal III/2019 cenderung stabil dan tercatat 5,02% (yoy), meskipun sedikit melambat dari capaian pertumbuhan triwulan
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 21 November 2019  |  16:09 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia kembali yakin pertumbuhan ekonomi 2019 bisa mencapai 5,1% dengan sejumlah bauran kebijakan yang sudah diambil sejak Juli 2019.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan PDB pada kuartal III/2019 cenderung stabil dan tercatat 5,02% (yoy), meskipun sedikit melambat dari capaian pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,05% (yoy).

Dia menilai, konsumsi rumah tangga menopang daya tahan pertumbuhan ekonomi nasional didukung oleh terjaganya konsumsi masyarakat berpendapatan rendah dengan penyaluran bantuan sosial.

“Selain itu semakin besarnya kelompok masyarakat berpendapatan menengah, serta dampak positif konsistensi kebijakan moneter menjaga stabilitas harga,” ungkap Perry di Bank Indonesia, Kamis (21/11/2019).

Alhasil Bank Indonesia memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan membaik pada kuartal IV/2019 sesuai pola musimannya dan sejalan dengan ekspansi kebijakan fiskal sehingga tahun 2019 dapat mencapai sekitar 5,1%.

Dia melihat dari jumlah penduduk menengah di Indonesia yaitu antar US$3 dolar sampai US$8,4 dolar per hari atau US$2,97 sampai US$8,44 dolar per hari porsi semakin besar.

“Secara keseluruhan ini menuju sekarang ini adalah sekitar 61,5%. Kalau kita lihat tahun 2000 ini hanya 23% jadi semakin besarnya middle income ini yang juga menopang daya konsumsi masyarakat,” pungkasnya.

Penduduk middle income ini yang terlihat konsumsinya cukup besar terefleksi dari berbagai penjualan ritel yang disampaikan non durable. Faktor lainnya, konsumsi rumah tangga tetap tahan dengan terjaganya inflasi yang rendah, akibat inflasi volatile food yang bisa ditekan di bawah 5%.

“Kuatnya konsumsi rumah tangga yang menjadi penjelas mengapa pertumbuhan ekonomi tetap berdaya tahan sementara negara lain mengalami perlambatan. Karena sumber pertumbuhan ekonomi kita itu adalah dari konsumsi rumah tangga,” jelasnya.

Ada beberapa pengungkit lain pertumbuhan ekonomi capai 5,1%. Misalnya, untuk investasi bangunan menurut Perry tetap tumbuh sejalan dengan pembangunan proyek-proyek infrastruktur strategis nasional.

Sementara itu, perbaikan ekspor belum kuat akibat permintaan dan harga komoditas global yang menurun, yang kemudian berpengaruh pada menurunnya impor dan melemahnya investasi nonbangunan.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat di berbagai wilayah, dan pertumbuhan investasi yang tetap baik terkait proyek strategis nasional di Sulawesi, Kalimantan, dan jawa. Sementara untuk kinerja ekspor di beberapa daerah membaik termasuk ekspor manufaktur seperti otomotif dari Jawa dan besi baja dari Sulawesi.

Sementara itu, kondisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kata Perry membaik sehingga menopang ketahanan eksternal Indonesia. Defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III/2019 menurun cukup besar yakni dari US$2,0 miliar pada kuartal sebelumnya menjadi US$46 juta.

Perkembangan positif ini ditopang oleh defisit neraca transaksi berjalan yang membaik dari US$8,2 miliar yaitu 2,9% dari PDB pada kuartal II/2019 menjadi US$7,7 miliar atau 2,7% dari PDB.

“Surplus transaksi modal dan finansial pada kuartal III/2019 juga tercatat cukup tinggi yakni US$7,6 miliar sejalan dengan tingginya keyakinan investor terhadap prospek perekonomian domestik dan daya tarik pasar keuangan yang tetap tinggi,” paparnya.

Perry yakin NPI secara keseluruhan pada 2019 diprakirakan mencatat surplus dipengaruhi aliran masuk modal asing yang besar dan defisit transaksi berjalan yang menurun menjadi sekitar 2,7% PDB.

Posisi cadangan devisa Indonesia tetap kuat, yang pada akhir Oktober 2019 mencapai US$126,7 miliar, meningkat dari US$124,3 miliar pada akhir September 2019. Perry menjelaskan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,4 bulan impor atau 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

Dia menjamin, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal melalui penanaman modal asing (PMA).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top