Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kebijakan Tarif Disesuaikan, Ekspor CPO Indonesia ke India Kembali Naik

Ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya ke India berhasil kembali naik. Hal tersebut tak lepas dari kebijakan India yang melakukan penyesuaian bea masuk produk tersebut dari Indonesia dengan Malaysia.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 21 November 2019  |  13:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya ke India berhasil kembali naik.

Hal tersebut tak lepas dari kebijakan India yang melakukan penyesuaian bea masuk produk tersebut dari Indonesia dengan Malaysia.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Minyak Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakhsmi mengatakan, saat ini bea masuk impor CPO dan produk turunannya di India masih tergolong tinggi. Namun, menurutnya hal itu tidak menjadi masalah berarti bagi ekspor Indonesia ke negara tersebut.

 “Sejak awal kami selalu minta besaran bea masuk yang kita terima harus setara dengan Malaysia. Kami merasa dirugikan ketika pada awal tahun lalu bea masuk produk CPO dan turunannya dari Malaysia lebih rendah dari kita. Sekarang terbukti, ketika bea  masuk  di India setara, ekspor produk kita kembali pulih,” katanya ketika dihubungi oleh Bisnis.com, Rabu (20/11/2019) malam.

Adapun pada awal tahun ini, India menetapkan bea masuk CPO dari Malaysia sebesar 40% dan produk turunannya sebesar 45%. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut berlakunya Malaysia-India Comprehensive Economic Cooperation Agreement (MICECA).

Namun, India pada akhirnya menaikkan bea masuk produk turunan CPO dari Malaysia pada September lalu menjadi 50%. Hal itu membuat besaran bea masuk CPO dan produk turunannya dari Indonesia dan Malaysia menjadi setara. Saat ini bea masuk CPO dari Indonesia dikenakan sebesar 40% dan produk turunannnya 50% oleh India.

Berdasarkan laporan Gapki ekspor minyak sawit Indonesia ke India meningkat tajam hingga 51% pada September 2019 dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi 481.000 ton.  Sementara itu, secara total, ekspor CPO dan produk turunannya dari Indonesia sepanjang tahun ini menccapai 26 juta ton pada September lalu.

Volume ekspor tersebut naik 4% dibandingkan dengan ekspor pada periode yang sama pada 2018. Capaian volume ekspor tersebut membantu menyerap produksi CPO domestik sepanjang Januari-September 2019 yang mencapai 36 juta ton

Data Gapki menyebutkan, kenaikan eskpor pada September dibandingkan dibandingkan dengan Agustus 2019, terjadi pada semua semua produk kecuali biodiesel dan minyak laurat. Penurunan ekspor biodiesel yang besar terjadi a.l. di China, negara Asia Tenggara dan Asia Timur lainnya.

Pada bulan lalu volume ekspor terbesar adalah menuju Afrika dengan 687.000 ton, diikuti oleh China  560.000 ton, India 481.000 ton, dan Uni Eropa 315.000 ton.

Sementara itu , sepanjang Januari-September 2019 volume ekspor terbesar tercatat menuju China yang mencapai 4,8 juta ton, Uni Eropa sebesar 4 juta ton, negara-negara Asia Tenggara dan Asia Timur selain China sebesar 3,8 juta ton, Afrika sejumlah 3,7 juta ton, dan India sebanyak 3,3 juta ton.

Adapun, produksi CPO pada September  turun sekitar 2% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sejumlah provinsi yang mencatat penurunan produksi antara lain Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, dan Jambi.  Namun penurunan produksi ini tertutupi dengan kenaikan produksi di provinsi-provinsi lain.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan, sampai dengan  September 2019, hujan masih belum turun sehingga telah terjadi water deficit yang mempengaruhi pembentukan bunga betina.

“Selain itu, kemarau panjang sepanjang tahun 2019 juga menyebabkan pemupukan masih belum dapat dilakukan. Kedua hal tersebut akan mempengaruhi pencapaian produksi tahun depan,” ujarnya seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Bisnis, Rabu (20/11).  

Terpisah, Direktur Perundingan Asean Kementerian Perdagangan Donna Gultom penurunan bea masuk untuk produk CPO  menjadi isu sensitif bagi India. Perundingan mengenai aksesbilitas CPO merupakan salah satu isu yang dibahas dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), di mana pada akhirnya negara tersebut memilih untuk menarik diri sementara waktu dari kerja sama tersebut.

“Di Asean-India Free Trade Area (AIFTA) mereka sangat sulit untuk kita ajak menerapkan skema most favoured nation (MFN) untuk bea masuk CPO. Namun saat ini kita bersyukur India menyamakan bea masuk CPO dan produk turunan kita dengan Malaysia. Paling tida,  level of playing field kita dengan Malaysia bisa sama,” ujarnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor cpo
Editor : Wike Dita Herlinda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top