Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Begini Cara Tekan Angka Kecelakaan Kerja dari Ketinggian

Beberapa bangunan yang memiliki arsitektural unik seperti bandara, bangunan komersial, bangunan pabrik, perkantoran yang pada awalnya terlihat indah, tetapi seiring berjalannya waktu terlihat kotor karena sulitnya akses saat melakukan perawatan.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 27 Oktober 2019  |  22:43 WIB
Pekerja menggunakan gondola di gedung tinggi. - Antara
Pekerja menggunakan gondola di gedung tinggi. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Jumlah angka kecelakaan kerja terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan data dari BPJS Ketenagakerjaan, kecelakaan kerja pada 2018 meningkat sebesar 40 persen, dan salah satu yang mendominasi adalah jatuh dari ketinggian, baik pada tahap konstruksi maupun perawatam bangunan.

Pemerintah melalui Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Bekerja di Ketinggian telah mendorong peningkatan partisipasi pelaku usaha untuk lebih memperhatikan aspek K3 di ketinggian, dengan melakukan pencegahan maupun perbaikan.

Namun, hal ini cukup menjadi tantangan bagi pelaku industri sebab untuk menerapkannya dibutuhkan investasi yang tidak sedikit. Selain itu, dengan kemajuan desain, teknologi serta arsitektural bangunan yang semakin unik dan futuristic, memberikan tantangan tersendiri bagi para pelaku industri dalam melakukan pemeliharaan.

Beberapa bangunan yang memiliki arsitektural unik seperti bandara, bangunan komersial, bangunan pabrik, perkantoran yang pada awalnya terlihat indah, tetapi seiring berjalannya waktu terlihat kotor karena sulitnya akses saat melakukan perawatan.

Berangkat dari kondisi tersebut, PT Utomodeck Metal Works penyedia solusi atap bangunan menawarkan solusi pengaman kejatuhan permanen di atas bangunan dengan nama Fall Protection System.

Managing Director Utomodeck Metal Works Anthony Utomo mengatakan sistem pengaman kejatuhan ini telah sesuai dengan regulasi melalui peraturan Menteri Tenaga Kerja No 19 Tahun untuk setiap kegiatan yang berisiko kejatuhan.

Untuk memperkenalkan sistem tersebut, Utomodeck bersama mitra prinsipalnya MSA Latchways menggelar capacity building menghadirkan tenaga ahli pengaman kejatuhan kelas dunia yakni Andrew Pass dari UK khususnya untuk konsep 'Design for Safety' kepada stakeholders yakni pengembang, arsitek maupun regulator di mana aspek K3 telah diperhitungkan sejak dini pada tahap perencanaan sebuah bangunan.

Dalam mendukung Design For Safety, MSA dan Utomodeck juga memperkenalkan produk engineered lifeline system yang diklaim dapat menjadi salah satu solusi dalam memberikan akses serta keamanan dalam pekerjaan yang memiliki risiko kecelakaan kerja jatuh dari ketinggian.

Anthony memastikan aplikasi studi kasus desain ini telah diterapkan di berbagai bangunan dengan arsitektur unik di indonesia seperti Bandara Internasional Ngurah rai Bali, Stasiun Layang MRT Jakarta, Stasiun LRT Jakarta, Bandara Kertajati dan lainnya.

“Engineered lifeline system ini dapat menjadi salah satu solusi dalam memberikan akses serta keamanan pada pekerjaan yang memiliki risiko kecelakaan kerja jatuh dari ketinggian,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan dan keselamatan kerja
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top