TEI 2019: Optimisme Dorong IKM 'Go Global'

“Pengusaha Indonesia harus menjaga kepercayaan dan menjual produk yang baik. Ini adalah gelaran internasional, kita harus benar-benar meyakinkan pembeli [dari luar negeri].”
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  17:26 WIB
TEI 2019: Optimisme Dorong IKM 'Go Global'
Suasana pembukaan Trade Expo Indonesia 2019 di Indonesia Convention Exhibition Bumi Serpong Damai (ICE BSD), Tangerang, Banten, Rabu (16/10 - 2019). / dok. Kemendag

Pengusaha Indonesia harus menjaga kepercayaan dan menjual produk yang baik. Ini adalah gelaran internasional, kita harus benar-benar meyakinkan pembeli [dari luar negeri].

Kalimat itu terucap dari mulut Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) 2019 di International Convention Exhibition Bumi Serpong Damai (ICE BSD) kemarin, Rabu (16/10/2019).

Dalam sambutannya tersebut Wapres JK seolah mengisyaratkan bahwa pengusaha Indonesia harus cerdik dalam membaca situasi di tengah pelemahan  ekonomi dan perdagangan global.

Terlebih, Wapres JK mengharapkan agar Indonesia dapat membalikkan stigma negatif dari efek perang dagang AS-China menjadi potensi dan peluang untuk mengungkit kinerja dagang nasional.

Pasalnya, melemahnya perekonomian dan perdagangan global secara tidak langsung membuat minat dan aktivitas berdagang dari kalangan usaha turut terkoreksi.

Hal itu setidaknya tercermin dari data jumlah buyers yang terdaftar di Trade Expo Indonesia (TEI)  2019 yang mengalami penurunan dari tahun lalu. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan jumlah buyers yang terdaftar dalam TEI 2019 kali mencapai 6.025 buyers dari 120 negara. Jumlah itu turun dari TEI 2018 di mana terdapat 8.313 buyers dari 124 negara yang ikut serta.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengakui kondisi ekonomi global cukup memengaruhi minat buyers asing untuk ikut serta dalam TEI 2019.  Namun demikian, dia meyakini transaksi yang terjadi di TEI 2019 kali ini akan meningkat lebih tinggi dari capaian 2018 yang menembus US$8,45 miliar.

“Jumlah buyers memang turun, tetapi itu yang terdaftar oleh kami. Sementara itu kami lihat banyak buyers asing yang belum terdaftar, juga ikut datang kali ini. Begitu pula dengan transaksinya. Kami yakin nilainya akan lebih tinggi karena kami menggelar sangat banyak sesi business matching,” ujarnya ketika ditemui usai pembukaan TEI 2019, di ICE BSD, Rabu (16/10).

Di sisi lain, dia meyakini adanya dampak yang lebih besar dibandingkan nilai transaksi yang tercatat selama TEI. Dampak itu adalah pengenalan produk Indonesia di mata global, terutama untuk produk-produk industri kecil dan menengah (IKM).

Dia mengatakan selama ini produk Indonesia, terutama IKM sangat terfasilitasi oleh adanya TEI untuk menembus pasar ekspor. Persoalan promosi produk IKM di pasar global yang selama ini terhambat dari segi biaya dan jarak, dapat diselesaikan melalui TEI yang mengundang ribuan buyers dari luar negeri ke Indonesia.

Hal itu diamini oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Dominasi jumlah peserta pameran TEI yang berasal dari IKM mencerminkan adanya upaya pemerintah dalam mengoptimalkan penetrasi industri tersebut di pasar global.

“TEI adalah ajang yang sangat bergengsi bagi IKM untuk menembus pasar global dan bahkan mendongkrak ekspornya ke luar negeri. Kami ingin mendekatkan calon pembeli dari luar negeri kepada IKM Indonesia. Terbukti dari tahun ke tahun selalu ada IKM baru yang berhasil menembus pasar ekspor berkat TEI,” katanya.

Dia mengatakan IKM merupakan industri yang paling tahan terhadap gejolak ekonomi baik luar negeri maupun dalam negeri. Maka dari itu menurutnya, IKM merupakan sektor yang paling konsisten menyumbang transaksi perdagangan yang besar di tiap agenda IKM.

“Tiap tahun kami menghadirkan sektor-sektor baru dari IKM untuk berunjuk gigi di TEI. Kali ini yang kami dorong adalah IKM bidang startup. Hal ini sesuai dengan tren dunia saat ini yang serba digital sehingga memunculkan peluang bagi perusahaan perintis untuk bertumbuh dan berkembang,” jelasnya.

Selain itu pada tiap gelaran TEI, pemerintah hampir selalu menyediakan insentif bagi kalangan IKM. Salah satunya melalui pemberian penghargaan Primaniyarta yang merupakan apresiasi bagi pelaku usaha berhasil menembus pasar ekspor.

Adapun pada tahun ini terdapat 8 perusahaan berskala menengah dan kecil yang berhasil memenangkan penghargaan tersebut. Kedelapan perusahaan tersebut berasal dari beragam industri yakni bulu mata, furnitur, makanan dan minuman, besi dan baja serta komponen.

Kedelapan perusahaan itu a.l.berasal dari industri menengah yakni PT Bio Takara, PT Queen Pacific Suksesabadi, CV Inagro Jinawi dan PT Bina Niaga Multiusaha. Selain itu adapula dari industri kecil yakni PT Retota Sakti, PT Coco Sugar Indonesia, CV Omyra Global Resources dan CV Seken.

Ketua Umum Asosiasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun mengatakan, TEI merupakan salah satu pintu yang paling efektif untuk memperkenalkan produk IKM Indonesia. Selama ini, kalangan tersebut acapkali terkendala oleh proses branding yang membuat ekspansi usahanya menjadi terbatas.

“Dalam hal ini pemerintah sudah bersikap proaktif dengan mengundang calon pembeli dari luar negeri untuk mengenali produk IKM kita. Sekarang tinggal bagaiamana pelaku usaha tersebut memanfaatkan peluang yang ada tersebut,” jelasnya.

Dia mengatakan, selama ini pelaku IKM terkendala oleh kontinyuitas produksi dan transaksi pascapameran. Menurutnya, banyak pengusaha yang kewalahan menuruti permintaan pasar global yang rata-rata berjumlah besar.

 Untuk itu dia menilai perlu adanya pendampingan bagi kalangan IKM untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksinya. Hal itu diperlukan untuk menjaga kepercayaan pembeli di luar negeri terhadpa produk-produk Indonesia.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan sektor perabotan rumah menjadi yang memiliki potensi terbesar untuk diminati oleh buyers di TEI saat ini. Dia mengatakan konsumen dari Eropa saat ini sangat meminat produk-produk perabotan rumah tangga dari Indonesia.

“Konsumen dari Eropa ini sangat gemar mengganti perabotan rumahnya dengan perabotan yang eksentrik. Tren ini cocok dengan karakter produsen perabotan Indonesia yang rata-rata dari kalangan IKM yang gemar memproduksi barang-barang yang unik,” katanya.

Untuk itu dia menilai TEI 2019 kali ini akan menjadi peluang bagi IKM di sektor tersebut memacu penjualannya. Kendati demikian dia tidak memungkiri adanya tren penurunan minat dan daya beli buyers asing lantaran perekonomian global yang sedang melesu.

Maka dari itu, dia meminta kepada kalangan usaha, terutama IKM untuk terus berinovasi guna memanfaatkan peluang pasar yang ada.

Walhasil, kini peluang IKM untuk melanjutkan proses go global ada kepada para pelakunya. Sebab, meskipun kondisi ekonomi global sedang melesu, tentu bukan menjadi alasan bagi para pelaku untuk ikut berpasrah diri dengan kondisi yang ada.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
trade expo indonesia

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top