Sektor Kreatif Berpotensi Jadi Penggerak Utama Perekonomian Nasional

Darmin mengatakan, ekonomi kreatif kini menjadi sektor yang semakin menjanjikan. Perkembangannya cukup pesat, baik dari nilai ekonomi maupun serapan tenaga kerjanya. Hal tersebut searah dengan tren perekonomian dunia yang mulai bergeser kepada ekonomi yang berbasis ide, kreativitas, dan inovasi.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  11:32 WIB
Sektor Kreatif Berpotensi Jadi Penggerak Utama Perekonomian Nasional
Pengunjung mengamati karya seni rupa dalam pameran bertajuk Contemporary Drawing Expanded, rangkaian pameran Bekraf Creative Labs di Galeri Soemardja ITB Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/8/2019). Pameran tersebut merupakan hasil Kerjasama Bekraf Deputi 1 dengan LPPM-ITB dalam mendata, meriset & mencari pengembangan ekonomi kreatif dalam subsektor seni rupa. - ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor ekonomi kreatif Indonesia berpotensi menjadi penggerak utama perekonomian nasional.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution saat memberikan pidato kunci pada acara “Pemberdayaan Perempuan Indonesia Melalui Zilingo SheWorkz untuk Mendukung Keuangan Inklusif”, di Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Darmin mengatakan, ekonomi kreatif kini menjadi sektor yang semakin menjanjikan. Perkembangannya cukup pesat, baik dari nilai ekonomi maupun serapan tenaga kerjanya. Hal tersebut searah dengan tren perekonomian dunia yang mulai bergeser kepada ekonomi yang berbasis ide, kreativitas, dan inovasi.

Kondisi ini didukung dengan potensi bonus demografi yang dimiliki Indonesia hingga 2030. Ini dapat dimanfaatkan pemerintah untuk mengembangkan industri brainware yang berbasis ide, kreativitas, dan inovasi.

Dengan potensi tersebut, Darmin berharap sektor ini dapat menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mendorong inklusivitas. “Bahkan bisa saja, ekonomi kreatif menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional sebagaimana visi pengembangan yang ditetapkan dalam Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional,” kata Darmin.

Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), pada tahun lalu ekonomi kreatif di Indonesia tumbuh sebesar 5,16% dengan nilai ekspor mencapai US$20,60 miliar.

Selain itu, jumlah pekerja dalam bidang ini pun mengalami pertumbuhan. Pada 2017, tercatat sebanyak 16,91 juta jiwa bekerja di sektor tersebut. Angka ini meningkat dibandingkan dengan 2016 yaitu 4,13%. Selain itu, data BPS juga menunjukkan komposisi terbanyak tenaga kerja ekonomi kreatif adalah perempuan, yang terpusat di tiga subsektor yaitu fesyen, kuliner, dan kriya.

Di lain sisi, dunia e-commerce Indonesia juga berkembang pesat. Dalam hal ini, pemerintah terus mendorong pengembangannya guna memajukan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan produk dalam negeri.

“Pemanfaatan e-commerce bagi UMKM dapat meningkatkan pemasaran dan membuka peluang ekonomi baru, sehingga dapat menciptakan kesejahteraan dan meningkatkan perekonomian Indonesia,” Darmin.

Pemanfaatan e-commerce juga dapat menunjang efisiensi dan inklusivitas. Menurut riset McKinsey, konsumen di luar Jawa mampu menghemat 11%-25% dari nilai belanjanya dengan menggunakan e-commerce dibandingkan dengan berbelanja secara konvensional. Kondisi ini harus dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha lokal untuk memasarkan produk-produk kreatifnya, khususnya busana dan kuliner.

“Melalui e-commerce, akses pasar menjadi tidak terbatas. Pelaku usaha dapat memperluas pasar, baik ke pasar domestik, bahkan pasar global. Untuk di dalam negeri sendiri, jangan sampai pelaku usaha dan produk lokal kalah dengan yang impor,” katanya.

Meskipun saat ini transaksi e-commerce masih terpusat di wilayah Jakarta dan sekitarnya, ke depannya, Darmin berharap akan lebih banyak UMKM dari luar Jawa yang tumbuh dan memasarkan produknya melalui platform e-commerce.

Darmin juga berpesan kepada pelaku industri UMKM untuk terus meningkatkan kapasitasnya, baik dari aspek produksi, pemasaran, pengiriman atau distribusi produk, hingga manajemen perusahaan. Pemerintah berkomitmen melakukan pendampingan dan pengawalan terhadap para pelaku UMKM dari hulu hingga hilir.

“Tentunya dalam upaya tersebut, pemerintah tidak dapat bergerak sendiri. Sangat diperlukan dukungan dari platform marketplace yang lebih memahami model bisnis e-commerce,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi kreatif

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top