Harga Kelapa Jatuh, Pemerintah Diminta Lebih Berperan di Tingkat Internasional

Pelaku industri pengolahan merujuk pada harga minyak kelapa atau coconut oil (CNO) yang ditetapkan bursa komoditas di Rotterdam, Belanda.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  12:25 WIB
Harga Kelapa Jatuh, Pemerintah Diminta Lebih Berperan di Tingkat Internasional
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) mengusulkan kepada pemerintah untuk mengambil peran dominan dalam penentuan harga kelapa di komunitas internasional guna mengatasi problem di dalam negeri.

Ketua Umum HIPKI Rudy Handiwidjaja H.P. mengatakan bahwa saat ini harga bahan baku kelapa di tingkat petani sangat rendah. Pasalnya, pelaku industri pengolahan merujuk pada harga minyak kelapa atau coconut oil (CNO) yang ditetapkan bursa komoditas di Rotterdam, Belanda.

Problem itu timbul lantaran adanya perubahan harga yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Rudy menjelaskan harga CNO beberapa tahun lalu masih menyetuh US$1.100 per ton, sedangkan saat ini berkisar US$715 - US$750 per ton.

"Bagaimana kami bisa membeli dengan harga tinggi sementara harga sudah ditentukan oleh pedagang di Rotterdam," ujarnya kepada Bisnis, Senin (14/10/2019).

Oleh karena itu, Rudy mengatakan HIPKI mengusulkan kepada pemerintah untuk mengambil peran lebih dominan dalam penentuan harga tersebut. Indonesia memiliki peran penting dalam industri kelapa global sebab penghasil bahan baku terbesar di dunia.

Apalagi, katanya, pucuk pimpinan Internasional Coconut Community (ICC) saat ini diduduki oleh orang Indonesia, yakni Jelfina C. Alouw yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif ICC.

"Usulan kami kepada pemerintah, kalau memungkinkan, harga untuk komoditas kelapa bisa merujuk ke negara-negara penghasil kelapa terbesar, bukan ke Rotterdam. Mereka bisa menentukan harga seenaknya, tetapi petani dirugikan," ujarnya.

ICC merupakan organisasi kerja sama negara-negara produsen kelapa di wilayah Asia Pasifik yang sebelumnya bernama Asian and Pacific Coconut Community (APCC). Saat ini, ICC beranggotakan 19 negara yang menguasai lebih dari 86 persen produksi dan ekspor kelapa dunia.

Negara-negara anggota ICC yaitu Mikronesia, Fiji, India, Indonesia, Jamaica, Kenya, Kiribati, Malaysia, Kepulauan Marshall, Papua Nugini, Filipina, Samoa, Kepualuan Salomon, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste, Tonga, Vanuatu, dan Vietnam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kelapa

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top