Ingin Dorong Manufaktur, Industri Kapal Masih Terkendala Impor

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro menyatakan, sejak 1970-an, Indonesia pernah mencoba mengembangkan manufaktur dari sektor industri perkapalan. Meski demikian, melalui PT PAL, sebagai negara maritime Indonesia masih terkendala dengan ketersediaan bahan baku, teknologi, dan sumber pembiayaan.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  15:32 WIB
Ingin Dorong Manufaktur, Industri Kapal Masih Terkendala Impor
Galangan PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari - dkb.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah ingin mengoptimalisasi kinerja industri manufaktur, salah satunya industri perkapalan tetapi terbatasnya ketersediaan teknologi jadi kendala.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro menyatakan sejak 1970-an, Indonesia pernah mencoba mengembangkan manufaktur dari sektor industri perkapalan. Meski demikian, melalui PT PAL, sebagai negara maritime Indonesia masih terkendala dengan ketersediaan bahan baku, teknologi, dan sumber pembiayaan.

“PT PAL kadang kadang masih harus disuntik dengan PMN, dan kita juga masih ada impor kapal yang belum bisa kita buat,” kata Bambang di Kantor Bappenas, Kamis (10/10/2019).

Sementara itu di lain pihak, negara Korea Selatan yang juga bersama-sama dengan Indonesia mengembangkan industri perkapalan, kini sudah lebih maju dan menjadi pemain besar industri ini. Menurut Bambang Korea bahkan sudah mengembangkan kapal selam. Alhasil Korea sudah menjadi penyuplai kapal di pasar global saat ini.

“Kita mulai bersama tapi kemudian Korea sudah sampai tahap bikin kapal bisa tenggelam istilahnya kapal selam, kita masih fokus pada kapal yang mengambang karena teknologinya belum sampai ke kapal selam,” tutur Bambang.

Berdasarkan data Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia pada kuartal III/2019, kinerja Industri Pengolahan pada kuartal III/2019 berada pada level ekspansi tetapi melambat, didorong oleh perlambatan ekspansi yang terjadi pada indeks volume pesanan, volume produksi, dan indeks volume persediaan barang jadi.

Bank Indonesia memerinci, menurut sektor ekonomi yang membentuk, indeks sektor alat angkut, mesin, dan peralatan pada kuartal III/2019 tercatat sebesar 53,01%, naik tipis dari kuartal II/2019 sebesar 52,57%, dan kuartal I/2019 sebesar 51,40%. Sementara itu, untuk sektor logam dasar besi dan baja, pada kuartal III/2019 naik tipis sebesar 50,05%, sedangkan pada kuartal II/2019 sebesar 48,70%, dan kuartal I/2019 sebesar 43,94%.

Secara keseluruhan, Bank Indonesia menyebut ekspansi terbesar terjadi pada subsektor Industri Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet dengan indeks sebesar 55,84% pada kuartal III/2019.

PMI-BI juga mengindikasikan kinerja sub sektor Kertas dan Barang Cetakan, serta sub sektor Semen dan Barang Galian Non Logam berada pada fase ekspansi paling tinggi berikutnya, dengan indeks masing-masing sebesar 54,34% dan 53,19%.

Pada sisi lain, beberapa sektor yang tetap mengalami ekspansi namun cenderung melambat antara lain subsektor Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau serta Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki dengan indeks berturut-turut sebesar 52,35% dan 50,53%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top