Maskeei : Pengembangan EBT Perlu Diikuti Penggunaan Energi Secara Efisien

Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (Maskeei) menilai pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia masih bertumpu pada pemenuhan kebutuhan energi di masyarakat.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  16:38 WIB
Maskeei : Pengembangan EBT Perlu Diikuti Penggunaan Energi Secara Efisien
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pondok pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Wali Barokah di Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/5/2019). Pembangunan PLTS senilai Rp10 miliar dengan panel surya seluas 41 meter x 40 meter tersebut mampu menghasilkan listrik 220.000 Watt per hari. - ANTARA / Prasetia Fauzani

Bisnis.com, JAKARTA — Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (Maskeei) menilai pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia masih bertumpu pada pemenuhan kebutuhan energi di masyarakat.

Ketua Maskeei Soedjono Respati mengatakan untuk mengembangkan EBT, konsep yang harus dipakai adalah menggunakan energi seefisien mungkin. 

Dia mencontohkan, penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap selama ini dikeluhkan karena bersifat intermiten dan produksi listrik yang rendah. Padahal, jika masyarakat mau melakukan efisiensi, yakni menyesuaikan antara kebutuhan dan produksi listrik yang mampu dihasilkan PLTS atap, tidak akan ada kendala dalam pemasangan teknologi tersebut. 

Menurutnya, Indonesia sudah harus berbenah untuk menggunakan energi secara bijak. Pada 1970-1980, Indonesia yang kaya akan energi mulai dari fosil hingga EBT melakukan eksploitasi berlebihan. 

Saat ini, cadangannya semakin berkurang sehingga terpaksa melakukan transformasi. "Dulu kita memproduksi 1,6 million barrel oil equivalent per day, sekarang hanya 700.000 barrel oil equivalent per day," katanya.

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) membuka peluang kerja sama dengan sejumlah negara dalam mengembangkan bisnis di bidang energi baru terbarukan (EBT) dan konservasi energi.

Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Eddy Hussy mengatakan pihaknya sedang menjajaki sejumlah kerja sama dengan pengusaha asal luar negeri mulai dari Swedia, Korea Selatan, maupun Jepang untuk mengembangkan bisnis EBT dan konservasi energi. Tren dunia yang mulai mengembangkan teknologi EBT dan konservasi energi mendorong semakin banyak pengusaha Indonesia untuk membuat bisnis ini memiliki tarif murah dan kompetitif di Indonesia. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
listrik, energi terbarukan

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top