Industri Manufaktur Melambat, Pemerintah Disarankan Lakukan Kebijakan Ini

Ekonom Maybank Indonesia Juniman menuturkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II diprediksi berada pada angka sekitar 5%. Salah satu faktor penyebab perlambatan ini adalah penurunan industri manufaktur domestik.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  15:25 WIB
Industri Manufaktur Melambat, Pemerintah Disarankan Lakukan Kebijakan Ini
Pekerja merakit mesin mobil Esemka di pabrik PT Solo Manufaktur Kreasi, di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019)./JIBI - Bisnis/Chamdan Purwoko

Bisnis.com, JAKARTA – Perlambatan industri manufaktur yang terjadi selama beberapa bulan belakangan akan turut menghambat pertumbuhan ekonomi. Sejumlah upaya perlu lebih digiatkan pemerintah untuk membangkitkan industri manufaktur.

Ekonom Maybank Indonesia Juniman menuturkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II diprediksi berada pada angka sekitar 5%. Salah satu faktor penyebab perlambatan ini adalah penurunan industri manufaktur domestik.

Selama 3 bulan terakhir, indeks PMI Indonesia berada di bawah angka 50. Meski mengalami kenaikan dari 49,0 ke 49,1 pada September, rata-rata PMI selama kuartal ketiga 2019 sebanyak 49,2 merupakan perolehan terendah sejak akhir 2016.

Juniman menuturkan, untuk menggenjot industri manufaktur, pemerintah harus meningkatkan industri yang dibutuhkan oleh negara-negara tujuan ekspor nontradisional Indonesia. Perlambatan ekonomi turut mempengaruhi ekspor Indonesia ke negara-negara umum yang menjadi tujuan ekspor seperti Amerika Serikat, China, dan Singapura.

“Kita bisa mengarahkan industri manufaktur yang dibutuhkan negara emerging market seperti negara di kawasan Afrika, Eropa Timur, dan mitra-mitra non tradisional Indonesia di wilayah Asia,” kata Juniman, Rabu (2/10/2019).

Selain itu, secara internal pemerintah perlu melaksanakan reformasi bisnis manufaktur. Industri harus cepat beradaptasi dan membuat barang-barang yang sesuai dengan gaya atau keinginan konsumen global. Oleh karena itu, pemerintah perlu membantu industri dalam melakukan inovasi baik dari sisi produksi, pemasaran, dan lainnya.

Hal lain yang harus dilakukan pemerintah adalah meningkatkan industri hilir dari bahan-bahan mentah. Juniman menuturkan, sumber daya alam Indonesia yang melimpah seharusnya tidak diekspor dalam bentuk mentahnya saja. Hal ini tidak akan memberikan nilai tambah terhadap komoditas tersebut.

“Dapat kita lihat sekarang dampaknya, sebanyak apapun pemerintah mengekspor bahan-bahan itu ke luar, bila harganya rendah hasil yang didapat juga tidak akan maksimal. Padahal, kita bisa memanfaatkan bahan-bahan tersebut menajdi industri lain yang lebih menguntungkan,” jelas Juniman.

Salah satu industri hilir yang perlu didorong adalah industri crude palm oil (CPO). Pemerintah perlu menggiatkan industri oleochemical berbasis CPO seperti sabun. Pemanfaatan ini , lanjutnya, akan memberi nilai tambah yang cukup besar dari sektor ini.

“Kebijakan ini bila dijalankan selaras dengan insentif fiskal seperti keringanan pajak akan dapat meningkatkan industri manufaktur dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top