Pemerintah Genjot Produktivitas Perkebunan Kopi dengan BUN 500

Pemerintah berencana meningkatkan produktivitas dan luasan lahan perkebunan kopi dalam negeri melalui program benih unggul perkebunan (BUN) 500.
Juli Etha Ramaida Manalu
Juli Etha Ramaida Manalu - Bisnis.com 30 September 2019  |  16:19 WIB
Pemerintah Genjot Produktivitas Perkebunan Kopi dengan BUN 500
Salah satu anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Dusun Kopi Sirap, Kec. Jambu, Semarang, Jawa Tengah menunjukkan hasil panen kopi yang tengah dijemur, Minggu (8/9/2019). - Bisnis / M. Richard

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah berencana meningkatkan produktivitas dan luasan lahan perkebunan kopi dalam negeri melalui program benih unggul perkebunan (BUN) 500.

Program peningkatan produktivitas dan luasan lahan kebun kopi ini akan dilakukan dalam jangka waktu 5 tahun yang dimulai pada 2020.

“Kalau sekarang rata-rata [produktivitas kebun] kopi kan 0,8 [ton per hektare (ha)]. Kita mau meningkatkan [menjadi] 2,5 ton sampai 3 ton, bahkan lebih per ha,” ujar Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono, baru-baru ini.

Khusus untuk program peningkatan produktivitas, menurut Kasdi, selain menyalurkan benih unggul untuk lahan-lahan pertanaman kopi baru, pihaknya juga menyasar lahan-lahan perkebunan kopi dengan usia tanaman yang sudah tua.

Tak hanya itu, lahan dengan tanaman muda tetapi produktivitas rendah juga menjadi target lain dari program ini.

Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, total luasan kebun kopi per 2018 mencapai 1,23 juta ha. Untuk mendukung program ini, pihaknya pun berencana membangun sejumlah infrastruktur seperti kebun pembibitan dan fasilitas perbanyakan bibit (nursery) di kawasan sentra-sentra produksi kopi.

Selain untuk menekan biaya produksi bibit, pembangunan kebun pembibitan dan nursery di sentra-sentra produksi kopi ini juga diharapkan bisa membantu mengembangkan coffee specialty atau kopi khas daerah masing-masing.

“Biasanya cita rasa khusus di daerah, dari indikasi geografis yang punya kekhasan di masing-masing wilayah. Kopi Toraja, Mandailing, Aceh, Bali itu beda,” ujarnya.

Di samping itu Kasdi juga berharap keberadaan kebun bibit ini bisa mendorong terciptanya varietas-varietas kopi unggul yang baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perkebunan, kopi

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top