APSyFI : Industri Tekstil Mengarah ke Defisit

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) diperkirakan mengarah kepada defisit perdagangan, kendati pada kuartal II/2019 menjadi sektor manufaktur dengan pertumbuhan tertinggi.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 09 September 2019  |  17:16 WIB
APSyFI : Industri Tekstil Mengarah ke Defisit
ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) diperkirakan mengarah kepada defisit perdagangan, kendati pada kuartal II/2019 menjadi sektor manufaktur dengan pertumbuhan tertinggi.

Redma Gita, Sekretaris Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) mengatakan bahwa pertumbuhan industri TPT pada akhir semester pertama tahun ini masih terbilang positif. Badan Pusat Statistik mencatat pada kuartal II/2019, sektor TPT bertumbuh 20,71% atau jauh di atas sektor lainnya.

Namun, bila dibedah maka kinerja sektor itu hanya ditopang oleh peningkatan di sektor hilir dengan produk pakaian jadi atau garmen. Bahkan menurutnya, segmen itu pun menunjukkan tren penurunan seiring dengan penyusutan utilitasnya.

Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan sejumlah pelaku industri pun menjadi indikator dari kondisi industri yang tengah tertekan tersebut.

“Industri tekstil mengarah ke defisit,” kata Redma di sela-sela diskusi bertajuk Textiles Media Gathering, Senin (9/9/2019).

Redma menjelaskan hingga akhir kuartal II/2019 kinerja perdagangan subsektor garmen dan barang jadi (HS 61, 62 dan 63) masih sangat baik. Neraca perdagangan untuk sektor hilir ini pun masih positif.

Namun, neraca perdagangan subsektor kain (HS 52 – 55, 58 dan 60) mengalami defisit yang terus melebar. Subsektor benang pintal dan filament (HS 52 – 55) pun terbilang stabil dengan kecederungan menurun.

Sementara itu, Redma mengatakan kinerja perdagangan yang tetap negatif ditunjukkan oleh subsektor serat (HS 52 dan 54), meskipun impor katun menurun lantaran pelaku usaha pemintalan mengurangi konsumsi bahan baku.

“Yang paling tertekan adalah weaving [tenun] kain & knitting [perajutan]. Kalau yang bikin benang, meskipun tertekan di lokal, masih ada ekspor,” ujarnya.

Redma menjelaskan kondisi itu sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan impor kain yang tidak diimbangi dengan peningkatan ekspor garmen. Pada saat yang sama, ekspor serat rayon atau viscose dan poliester, tidak bisa mengimbangi impor kapas.

Produk serat, benang dan kain lokal, sebut dia, sulit bersaing di pasar ekspor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri tpt

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top