Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sektor TPT Terus Tertekan, Ini Solusi dari Ikatsi

Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) mengajukan sejumlah usulan baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang guna membenahi industri tekstil dan produk tekstil nasional (TPT) yang kian tertekan.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 09 September 2019  |  15:42 WIB
ilustrasi. - JIBI/Nurul Hidayat
ilustrasi. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) mengajukan sejumlah usulan baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang guna membenahi industri tekstil dan produk tekstil nasional (TPT) yang kian tertekan.

Ketua Umum Ikatsi Suharno Rusdi mengatakan pembenahan sektor TPT merupakan langkah strategis bagi pemerintah untuk menjadikan neraca perdagangan kembali positif dan mencegah dampak buruk ekonomi makro lainnya. Pasalnya, pelemahan sektor TPT yang padat karya dinilai bisa berdampak luas bagi ekonomi nasional.

“Kalau sektor ini sakit neraca pembayaran pemerintah akan terdampak, sektor perbankan akan terdampak, setoran BPJS dan pembayaran listrik juga terdampak, makanya harus segera diperbaiki sebelum terlambat” ujarnya dalam diskusi bertajuk Textiles Media Gathering di Jakarta, Senin (9/9/2019).

Ikatsi, sambung Rusdi, melalui Tim Kajian Penyelamatan Industri Tekstil Nasional, telah menyusun sejumlah usulan. Untuk jangka pendek atau dalam enam bulan ke depan, pihaknya mengusulkan pemberhentian izin impor TPT, kecuali untuk kepentingan ekspor melalui kawasan berikat dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE).

Pada saat yang sama, pemerintah perlu merevisi aturan impor yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.64/2017. Regulasi tentang perubahan atas Permendag No.85/2015 itu dianggap sebagai salah satu akar permasalahan dari kondisi tersebut.

“Usulan jangka pendek, penyelamatan industri TPT nasional,” ujarnya.

Adapun untuk jangka menengah atau dalam lima tahun ke depan, Ikatsi mengusulkan agar didorong pemulihan dan penguasaan pasar domestik (substitusi impor) melalui penerapan trade remedies.

Rusdi mengatakan pihaknya ingin mendorong peningkatan daya saing dalam janga panjang atau lima tahun ke depan.

“Peningkatan daya saing untuk mendorong ekspor, yaitu dengan menjalankan agenda peningkatan daya saing di sektor bahan baku, energi, SDM, teknologi, keuangan dan lingkungan,” kata Rusdi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri tpt
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top