Optimisme Menabung dan Investasi Masih Positif 12 Bulan Mendatang

Bank Indonesia menyatakan secara umum hingga 12 bulan mendatang, prakiraan konsumen untuk menabung dari hasil pendapatan cukup tinggi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 06 September 2019  |  15:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia menyatakan secara umum hingga 12 bulan mendatang, prakiraan konsumen untuk menabung dari hasil pendapatan cukup tinggi.

Dilansir dari Survei Konsumen Bank Indonesia Agustus 2019 dalam 3 bulan mendatang memperkirakan bahwa pengeluaran konsumsi sampai November 2019 masih meningkat dari bulan sebelumnya.

Hal ini terindikasi dari meningkatnya indeks perkiraan konsumsi rumah tangga 3 bulan mendatang dari 155,9 pada bulan sebelumnya menjadi 158,8.

Responden rumah tangga memperkirakan pada 6 bulan mendatang sampai Februari 2020 jumlah tabungan akan meningkat.

Hal ini berimbas pada jumlah penurunan saldo utang akan lebih rendah dari bulan sebelumnya. Tercermin dari Indeks Perkiraan Jumlah Tabungan yang meningkat dari 118,5 menjadi 120,8, sementara Indeks Perkiraan Posisi Pinjaman turun dari 162,3 menjadi 161,2. 

Rumah dan Emas

Di antara sejumlah rencana penempatan kelebihan pendapatan dan pembelian, atau pembangunan rumah, responden rumah tangga akan memilih produk perbankan.

Adapun tabungan atau deposito sebagai preferensi utama untuk menyimpan kelebihan pendapatan dalam 12 bulan mendatang.

Sebanyak 43,0 persen responden menyatakan akan menempatkan kelebihan pendapatan dalam 12 bulan mendatang dalam bentuk tabungan atau deposito.

Sebanyak 23,0 persen responden memilih penempatan dalam bentuk properti dan 19,9 persen responden lainnya dalam bentuk emas atau perhiasan.

Pada Agustus 2019, persentase responden yang berencana menempatkan kelebihan pendapatan dalam bentuk tabungan dan deposito menurun dari bulan sebelumnya.

Sebaliknya penempatan dalam bentuk properti dan emas atau perhiasan meningkat.

Andri Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri menyatakan sampai akhir tahun akibat perang dagang, investor akan memilih komoditi yang minim risiko.

Dalam hal ini, emas masih akan terus menjadi pilihan utama investor. Kondisi ini yang berimbas pada meningkatnya sumbangan inflasi.

Namun menurut Andri, selama ini yang jadi safe heaven asset selain emas adalah dolar Amerika, Swiss Franc, dan Japanese Yen.

"Kemungkinan kalau harga emas naik terus maka akan memberikan tekanan kepada core inflation seperti yang terjadi bulan lalu," terang Andri kepada Bisnis, Jumat (6/9/2019).

Masih dari survei yang sama, dalam 12 bulan mendatang yakni September 2019 s.d. Agustus 2020, sebanyak 6,6 persen responden menyatakan sangat mungkin untuk membeli atau membangun rumah atau renovasi menambah ruangan, lebih rendah dari hasil survei bulan sebelumnya yang sebanyak 7,3 persen.

Sementara itu, 29,7 persen responden lainnya menyatakan ada kemungkinan membeli atau membangun rumah dan 63,7 persen responden lainnya menyatakan tidak mungkin atau tidak tahu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, bank indonesia

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top