Pemda Dianggap Tak Serius Bangun Pariwisata Danau Toba

Pegiat literasi lingkungan asal Sumatra Utara mempertanyakan keseriusan pemerintah tingkat I dan tingkat II dalam memajukan pariwisata di Danau Toba.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 06 September 2019  |  19:40 WIB
Pemda Dianggap Tak Serius Bangun Pariwisata Danau Toba
Danau Toba dilihat dari Geosite Sipinsur Kabupaten Humbang Hasundutan. JIBI - Nancy Junita

Bisnis.com, JAKARTA--Pegiat literasi lingkungan asal Sumatra Utara mempertanyakan keseriusan pemerintah tingkat I dan tingkat II dalam memajukan pariwisata di Danau Toba.

Ungkapan kekecewaan tersebut muncul dari Togu Simorangkir, alumnus bidang konservasi dari Oxford Brookes University serta pendiri Yayasan Alusi Tao Toba. Togu mengatakan, Danau Toba di kelilingi 8 kabupaten, akan tetapi belum muncul kabupaten yang langsung memperoleh manfaat besar dari sektor pariwisata.

"Padahal Presiden RI, Jokowi sudah datang hingga 5 kali ke Danau Toba untuk mendorong pariwisata, akan tetapi pemda sangat lamban dan hanya mengharapkan pemerintah pusat yang membangun Danau Toba. Banyak institusi yang dibentuk untuk membangun pariwisata, tetapi mereka memiliki ego institusi dan tak melakukan sinergi," ungkapnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (6/9/2019).

Untuk membangun pariwisata di Danau Toba, pemerintah daerah bisa melakukan pendekatan dengan ketua-ketua adat, komunitas ibu-ibu di mesjid dan gereja yang ada 8 kabupaten tersebut. Pendekatan yang diberikan bertujuan untuk mengubah pola pikir dan menjadikan pariwisata sebagai sumber ekonomi.

Dari tempat terpisah, wisatawan lokal asal Jakarta, Aulina mengaku memiliki pengalaman buruk saat melakukan perjalanan ke Danau Toba. Kaca mobil pribadi yang disewanya digedor keras oleh pria paruh baya dan meminta uang parkir yang dipatok Rp20.000.

Aulina tidak terima dengan sikap pria tersebut, sebab mobil yang membawa dia dan rombongan dari Jakarta tidak dalam posisi parkir melainkan dalam antrean untuk masuk ke kapal ferry.  Tapi, mau tak mau, Aulina dan rombongan memberikan uang kepada pria yang tak dikenal tersebut.

"Ini bukan perkara nilai uang Rp20.000, mobil kami tidak parkir dan hanya antre. Ini pungli dan dianggap menjadi hal yang biasa. Jujur, saya tidak nyaman dengan hal itu. Masyarakat di sekitar Danau Toba tampaknya belum sadar wisata dan hospitality belum terbangun dengan baik," kata Aulina.

Aulina bersama tiga temannya kapok dengan pengalaman pertama di Danau Toba. Rombongannya pun tidak ingin kembali ke Danau Toba, yang merupakan objek wisata danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara ini.

Togu menambahkan, pendekatan sadar wisata dan lingkungan perlu dibangun di masyarakat sekitar. Menurutnya, wacana wisata halal yang sempat diwacanakan pemerintah juga tak disampaikan dengan baik ke masyarakat.

Buruknya komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah dengan masyarakat kini memicu penolakan. Namun, bukan berarti penolakan tersebut bakal bersifat permanen. Menurut Togu, pemerintah harus melakukan pendekatan kearifan lokal dan benar-benar turun ke lapangan.

Infrastruktur Danau Toba

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono pernah mengatakan bahwa pada 2020 pemerintah telah mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur untuk pengembangan KSPN Danau Toba sebesar Rp2,4 triliun atau lebih besar dari tahun ini sebesar Rp821,3 miliar.

"Kementerian PUPR sudah membuat program pengembangan KSPN Danau Toba. Program tersebut merupakan program terpadu dari seluruh sektor yang sudah kami survei. Ini belum termasuk kawasan Kaldera, untuk menarik investor di Kaldera kami akan programkan pembangunan jalan. Dengan kunjungan hari ini, dan dilanjutkan oleh rencana tinjauan Presiden, akan memperhalus program untuk mengubah wajah kawasan Danau Toba menjadi lebih tertata," kata Basuki melalui siaran pers.

Infrastruktur yang dibangun antara lain jalan lingkar Samosir, Jembatan Tano Ponggol, revitalisasi Danau Toba, embung, instalasi pengolahan air, sanitasi, dan penataan kawasan tepi Danau Toba.

Penataan kawasan wisata Dolok Sipiak di Kecamatan Parapat, Kabupaten Simalungun dilakukan melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya pada 2017—2018 dengan biaya Rp5,80 miliar. Kawasan yang berada di atas bukit tersebut menjadi tujuan wisata karena dari lokasi ini wisatawan mendapatkan pemandangan Danau Toba yang indah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
danau toba

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top