Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi China diperkirakan Tumbuh 5,7% pada 2020

Oxford Economics memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi China akan melambat menjadi 5,7% pada kuartal keempat 2019 dan bertahan pada laju yang sama hingga 2020.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 03 September 2019  |  14:18 WIB
. - .Bloomberg
. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Oxford Economics memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi China akan melambat menjadi 5,7% pada kuartal keempat 2019 dan bertahan pada laju yang sama hingga 2020.

Sebuah laporan yang ditulis oleh Kepala Ekonom Asia di Oxford Economics, Hong Kong, Louis Kuijs, menyatakan bahwa meskipun pelonggaran kebijakan sejak akhir tahun telah membantu memoderasi perlambatan, dampaknya sangat kecil.

"Dengan ekonomi domestik melambat, konflik dengan AS dan momentum perdagangan global yang lemah, pelonggaran kebijakan lebih lanjut diperlukan untuk menstabilkan pertumbuhan ekonomi," katanya, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (3/9).

Paket stimulus fiskal China termasuk sekitar dua triliun yuan tambahan dari pemotongan pajak memiliki efek pengganda yang lebih sedikit untuk mengangkat pertumbuhan di dalam maupun luar negeri.

Laporan tersebut membandingkan pelonggaran sebelumnya yang difokuskan pada belanja infrastruktur dan perumahan dengan dampak yang lebih efektif pada pertumbuhan.

Sementara itu, permintaan kredit tetap lemah karena ekonomi melambat dan perang perdagangan meningkat, tetapi para pembuat kebijakan tetap enggan untuk meningkatkan pertumbuhan kredit secara besar-besaran.

Pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 6,2% pada kuartal kedua, laju terendah dalam hampir tiga dekade dan mendekati batas bawah target setahun penuh pemerintah antara 6%-6,5%.

Indikator-indikator awal menunjukkan ekonomi semakin melambat di bulan Agustus.

"Kami masih mengharapkan pertumbuhan stabil, tetapi lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya dan pada tingkat yang lebih rendah. Risiko downside utama untuk perkiraan ini adalah pembuat kebijakan tidak meningkatkan pelonggaran kebijakan secara memadai," kata Kujis.

Ekonomi China menghadapi tekanan dari perang dagang yang merusak dengan Amerika Serikat.

Kedua negara mulai memberlakukan tarif tambahan pada barang impor masing-masing pada akhir pekan, peningkatan terbaru dalam sengketa perdagangan, meskipun ada tanda-tanda bahwa pembicaraan akan dilanjutkan di bulan ini.

Sektor manufaktur China yang luas menyusut pada bulan Agustus untuk bulan keempat berturut-turut.

Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Caixin/Markit untuk Agustus naik ke level tertinggi dalam lima bulan terakhir menjadi 50,4 dari 49,9 pada Juli, setelah terkontraksi selama dua bulan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi china
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top