Indonesia Pacu Pengiriman Tenaga Kerja ke Jepang

Target Pemerintah Indonesia untuk bisa mengatasi masalah pengangguran melalui pengiriman tenaga kerja terampil spesifik (specified skilled worker) ke Jepang sebanyak 70.000 orang kemungkinan besar dapat terwujud dengan mudah.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 03 September 2019  |  18:01 WIB
Indonesia Pacu Pengiriman Tenaga Kerja ke Jepang
Pekerja Migran Indonesia (PMI) menunggu pendataan oleh petugas BP3TKI saat tiba di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Minggu (27/5/2018). - ANTARA/Reza Novriandi

Bisnis.com, JAKARTA — Target Pemerintah Indonesia untuk bisa mengatasi masalah pengangguran melalui pengiriman tenaga kerja terampil spesifik (specified skilled worker) ke Jepang sebanyak 70.000 orang kemungkinan besar dapat terwujud dengan mudah.

Guru Besar Universitas Krisnadwipayana sekaligus pakar ketenagakerjaan dan hubungan industrial Payaman Simanjuntak mengatakan, target tersebut dapat dengan mudah tercapai lantaran setiap tahunnya Indonesia melahirkan jutaan lulusan pendidikan kejuruan yang tak sepenuhnya bisa terserap di dalam negeri.

Perinciannya adalah 1,5 juta lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), 500.000 lulusan politeknik, dan 200.000 lulusan Balai Latihan Ketenagakerjaan (BLK).

“Kesempatan bagus itu [dari Jepang], kita harus siapkan, agar bisa memenuhi kebutuhan dan persyaratan mereka, kita berdayakan,” katanya, Selasa (9/3/2019).

Payaman menilai tenaga kerja asal Indonesia cukup kompetitif dan bisa bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari negara lainnya, khususnya negara-negara di Asia Tenggara seperti Filipina dan Vietnam yang ikut mengirimkan tenaga kerja ke Jepang.

Pandangan masyarakat Jepang terhadap tenaga kerja Indonesia juga sangat baik, mereka disukai karena etos kerjanya dan sikapnya yang sopan serta santun.

“Tinggal kita mencocokkan saja, kompentensi apa yang dibutuhkan oleh Jepang dari seluruh peluang yang ada,” ujarnya.

Pemerintah Jepang lewat regulasi residential status baru memberikan peluang kepada warga negara asing (WNA) untuk bekerja sebagai tenaga kerja terampil spesifik. Terdapat 14 sektor pekerjaan yang dibuka bagi WNA, antara lain care worker, building cleaning management, machine parts and cooling industries, industrial machiner, industry electric, electronics and information industry.

Kemudian automobile repair and maintenance, aviation industry, accommodation industry, agriculture, fishery and aquaculture, manufacture of food and beverages, dan food service industry.

Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menyebut Indonesia siap untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di Jepang yang saat ini terus berkurang jumlahnya akibat fenomena penuaan penduduk atau ageing society. 

Indonesia pun diharapkan mampu memenuhi 20% dari kebutuhan tenaga kerja terampil Jepang sebanyak 345.150 tenaga kerja atau sekitar 70.000 tenaga kerja.

Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Jepang di bidang penempatan tenaga kerja terampil spesifik ke Jepang.

Pemerintah Indonesia juga akan melanjutkan program kerja sama pemagangan (Technical Intern Training Program/TITP) dengan Jepang sebagai bentuk optimalisasi penguatan sumber daya manusia (SDM) di dalam negeri selain pelatihan vokasi di balai latihan ketenagakerjaan (BLK) dan pemagangan berbasis jabatan di dalam negeri.

“Sehingga mereka memperoleh kompetensi dan daya saing untuk bekerja baik di dalam maupun luar negeri atau berusaha mandiri setelah menyelesaikan program pemagangan di Jepang,” kata Hanif dalam siaran pers,Selasa (3/9/2019).

Sejak 1993, Indonesia 80.000 peserta pemagangan asal Indonesia telah diberangkatkan ke Jepang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 60.000 orang diantaranya telah kembali ke Tanah Air dan 20.000 orang lainnya masih berada di Jepang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, tenaga kerja, pekerja migran, Pekerja Migran Indonesia

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top