Dongkrak Daya Saing, Industri Ramah Lingkungan Dipacu

Kementerian Perindustrian mendorong para pelaku industri pengolahan untuk memperhatikan aspek ramah lingkungan.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 02 September 2019  |  07:05 WIB
Dongkrak Daya Saing, Industri Ramah Lingkungan Dipacu
Pekerja PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) menuangkan biji plastik (polypropylene) ramah lingkungan untuk bahan membuat kantong plastik yang mudah lapuk kembali menjadi tanah dalam tempo 4 bulan. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian mendorong para pelaku industri pengolahan untuk memperhatikan aspek ramah lingkungan. Hal ini bertujuan menopang daya saing sehingga produk yang dihasilkan sehingga mampu kompetitif di kancah domestik dan global.

“Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, penerapannya bertujuan untuk mewujudkan industri yang mandiri, berdaya saing, maju, dan industri hijau,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Jumat (30/8/2019).

Pihaknya aktif mengkampanyekan ke pelaku industri tentang konsep ekonomi sirkular, yaitu reduce, reuse, recycle, recovery dan rethink. Artinya, tidak hanya mengolah limbah namun dapat mendorong efisiensi, memproduksi barang yang dapat digunakan kembali, memproduksi barang mudah terurai oleh alam, dan mendorong pemanfaatan sampah sebagai energi alternatif.

Bahkan, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2015 tentang Pembangunan Sumber Daya Industri, perusahaan industri dan perusahaan kawasan industri wajib memanfaatkan sumber daya alam secara efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Airlangga mengatakan langkah strategis tersebut sejalan dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0, yang salah satu program prioritasnya menekankan pada standar-standar keberlanjutan. Dengan demikian, sektor industri mendukung terhadap pelestarian lingkungan hidup melalui pemanfaatan teknologi.

“Dengan memanfaatkan teknologi, perusahaan memungkinkan untuk memperpanjang siklus pakai suatu aset dan sumber daya, meningkatkan utilisasi, menciptakan pemulihan material dan energi untuk penggunaan lebih lanjut, serta menurunkan emisi dan penggunaan sumber daya dalam prosesnya,” katanya.

Salah satu sektor manufaktur yang tengah dipacu pemerintah untuk hal itu, yakni industri otomotif, yang diwujudkan melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Perpres tersebut juga merupakan wujud konkret dari komitmen Pemerintah Indonesia dalam menjaga kemandirian energi nasional sekaligus perwujudan komitmen yang telah disampaikan pada UN Climate Conference, COP 21 di Paris, di mana Pemerintah Indonesia diharapkan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (CO2) sebesar 29% pada 2030 tanpa bantuan internasional, dan 41% dengan bantuan internasional.

Di samping itu, pemerintah sedang memfinalisasi revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

“Dalam skema PPnBM yang baru, akan ditambahkan parameter penghitungan konsumsi bahan bakar dan emisi CO2. Ini juga untuk menyesuaikan minat konsumen global, sehingga kita bisa mendorong produksi kendaraan yang dapat memenuhi kebutuhan pasar ekspor,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri manufaktur

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top