Aksi CEIA, Industri Siap Konsumsi Energi Baru Terbarukan

Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi sumber energi baru dan terbarukan terbesar di dunia.
MediaDigital
MediaDigital - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  14:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi sumber energi baru dan terbarukan terbesar di dunia.

Potensi panas bumi, hidro, tenaga angin, panas bumi, tenaga surya, hingga sumber biomassa dan biogas siap untuk digunakan dan membuka peluang investasi yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Untuk mempercepat realisasi penggunaan energi baru terbarukan (EBT) diperlukan sokongan banyak pihak.

Salah satu yang mengemuka yaitu kemitraan publik-swasta Clean Energy Investment Accelerator (CEIA) Indonesia.

Di sisi lain, pemerintah pun menyadari potensi besar tersebut. Bukan tanpa maksud jika Presiden Joko Widodo dalam pertemuan IMF di Bali pada Oktober lalu menyinggung investasi energi baru dan terbarukan (EBT) tersebut.

Dalam pidato yang populer karena menyitat kisah Game of Thrones, Jokowi—sapaan akrab Presiden—mendorong agar investasi energi terbarukan meningkat 400%. 

Dia mewanti-wanti bahwa waktu sudah sangat mendesak bagi dunia untuk bertindak dalam skala besar-besaran, guna mencegah kehancuran dunia akibat perubahan iklim global yang tidak terkendali.

“Kita perlu segera meningkatkan investasi tahunan secara global sebesar 400% untuk energi terbarukan. Untuk itu, kita harus bekerja bersama menyelamatkan kehidupan bersama kita,” kata Jokowi.

Harapan Jokowi sebenarnya sejalan dengan semangat industri global saat ini.

Di tataran internasional kini telah muncul semangat kolektif yang disokong banyak perusahaan multinasional sebagai respon dari konsumen dan para pemegang saham.

Salah satu dukungan kolektif itu berbentuk gerakan kolektif yang dinaungi Platform RE 100.

Program ini mewadahi dan mendorong komitmen perusahaan skala global untuk berkomitmen menggunakan 100% energi terbarukan.

Sedikitnya ada 191 perusahaan seperti IKEA, P&G, dan H&M yang masuk dalam Platform RE 100.

Perusahaan besar tersebut mengharapkan agar seluruh operasionalnya murni menggunakan energi terbarukan.

Persoalannya, hingga kini rencana produksi besar-besaran energi terbarukan di Indonesia terkesan jalan di tempat.

Regulasi yang ada belum mampu memberikan pedoman teknis yang cukup, sehingga belum mampu menumbuhkan gairah investasi yang tinggi di bidang EBT.

Parlemen sendiri baru merencanakan pembahasan beleid energi terbarukan yang masuk dalam program legislasi nasional (Prolegnas) Oktober nanti.

Hal itu membuat keinginan kuat untuk menghadirkan energi terbarukan, sebagaimana disampaikan Jokowi, masih belum dapat melangkah jauh.

PERMINTAAN ITU ADA

Sebaliknya, sebagai tuntutan industri masa depan, permintaan EBT menyimpan potensi besar.

Apalagi sebagian besar korporat besar telah manjadi bagian dari Platform RE 100.

Sebut saja H&M yang juga beroperasi di Indonesia. Perusahaan ini memburu ketersediaan energi terbarukan sebagaimana komitmen mereka di level global.

Sustainability Manager H&M Indonesia Anya Saphira mengatakan banyak perusahaan global ikut mendukung penggunaan energi terbarukan untuk mengikis tingkat kerusakan alam di dunia.

Untuk H&M, jelas Anya, mempertimbangkan imbas industri jika terus memanfaatkan energi fosil yang menghasilkan emisi.

“Karena itu, kami berkomitmen untuk beralih ke energi terbarukan. Ini kontribusi kami bagi dunia,” ujar Anya.

Bagi H&M, komitmen 100% memanfaatkan energi terbarukan berbeda-beda untuk masing-masing area operasi.

Dari 20 negara sebagai basis produksinya, H&M telah menggunakan energi terbarukan sebanyak 90% dari seluruh operasionalnya.

“Terutama di Eropa dan Amerika, karena di sana tersedia pasokan energi terbarukan. Di Asia, kami telah memanfaatkan energi terbarukan paling besar di India,” tegas Anya.

Untuk wilayah operasi di Indonesia, Anya menyimpulkan H&M punya peluang memanfaatkan banyak sumber energi baru terbarukan.

“Sebenarnya, Indonesia itu kaya sumber energi terbarukan, misalnya sumber dari tenaga surya,” ungkapnya.

Namun demikian, sejauh ini permintaan besar energi terbarukan itu belum digarap secara optimal.

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN sebagai satu-satunya penyedia energi listrik belum bisa menggenjot ketersediaan EBT.

Untuk H&M saja terdapat jaringan pemasok terdapat 85 pabrik di Indonesia. Belum lagi menghitung ratusan perusahaan global lain yang juga ikut berkomitmen dalam RE 100.

Guna mengakselerasi penyediaan energi terbarukan, H&M ikut bergabung dalam kemitraan publik-swasta CEIA Indonesia.

Lewat platform CEIA ini, H&M beserta perusahaan lainnya melakukan inisiasi riset dan inovasi yang mendorong penyediaan energi terbarukan di Indonesia.

“Selama dua bulan, H&M sudah meriset sejauh mana Biomassa bisa diaplikasikan sebagai sumber energi terbarukan di rantai pasoknya H&M. Selain itu, kami juga menyusun data permintaan kolektif energi terbarukan dari seluruh perusahaan yang memiliki komitmen,” katanya.

KEUNGGULAN KOMPETITIF

Anya menyimpulkan tren global untuk menciptakan industri ramah lingkungan sebenarnya semakin besar.

Hasrat menggunakan teknologi hijau hingga energi terbarukan perlahan menjadi parameter investasi perusahaan global.

“Bukan tidak mungkin keunggulan kompetitif suatu negara dalam hal investasi diukur juga dengan kemudahan dan infrastruktur yang ramah lingkungan, seperti ketersediaan energi terbarukan, karena semua negara dan korporasi telah meneken kesepakatan SDGs,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, CEIA Indonesia bermitra dengan 14 perusahaan yang berkomitmen untuk menyediakan antara 50-100% dari permintaan energi lokal mereka dari sumber EBT selama periode waktu tertentu.

Hanya saja, tegas Perwakilan Allotrope Partners untuk CEIA Indonesia Gina Lisdiani, komitmen tersebut belum bisa direalisasikan akibat keterbatasan pasokan energi terbarukan, terutama dari sumber pembangkit listrik yang baru.

Dia menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan yang telah berpartisipasi aktif di CEIA Indonesia memiliki target yang berbeda-beda, ada yang menargetkan untuk menggunakan setidaknya 50% energi terbarukan pada tahun depan.

Sebagian besar perusahaan-perusahaan itu memiliki komitmen untuk memenuhi 100% kebutuhan listrik dari sumber energi terbarukan pada 2020 hingga 2050.

“Bahkan ada yang menargetkan 100% penggunaan energi terbarukan pada 2020. Hingga saat ini setengah dari targetnya itu masih belum tercapai,” kata Gina.

Sementara itu, Perwakilan World Resources Institute (WRI) Indonesia untuk CEIA Almo Pradana mengungkapkan CEIA Indonesia mengagregasi permintaan energi terbarukan dari sektor komersial dan industri yang kemudian disatukan dalam sebuah wadah untuk meningkatkan urgensi kebutuhan tersebut, serta membantu perusahaan mengatasi hambatan yang ada.

“Masukan dan hambatan yang dialami sektor ini kemudian dicarikan jalan keluarnya, antara lain dengan cara memfasilitasi dialog, penyampaian rekomendasi kebijakan, dan opsi pengadaan dengan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, serta dengan PLN sebagai pemasok listrik,” jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah melalui RUPTL 2019-2028 telah menginstruksikan PLN agar terus mendorong pengembangan energi terbarukan, dengan target penambahan pembangkit listrik dari energi terbarukan hingga 2028 adalah 16.765 MW.

Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah dan industri melalui wadah seperti CEIA Indonesia, semoga saja rencana ini pun tak berhenti di atas kertas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, energi terbarukan

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top