Laju Deforestasi Indonesia Alami Penurunan

International Tropical Timber Organization (ITTO) menyatakan laju deforestasi di Indonesia menunjukkan tren penurunan sejak 2000.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  08:51 WIB
Laju Deforestasi Indonesia Alami Penurunan
Petugas Manggala Agni Daops Banyuasin berusaha memadamkan kebakaran lahan yang terjadi di Desa Kayu Arehh, Kertapati Palembang, Sumatera Selatan, Minggu, (18/8/2019). Sebanyak enam helikopter water boombing dan 1.512 orang personel gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD dan Sat Pol PP dikerahkan untung melakukan pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Sumatra Selatan. - ANTARA/Ahmad Rizki Prabu

Bisnis.com, BOGOR - International Tropical Timber Organization (ITTO) menyatakan laju deforestasi di Indonesia menunjukkan tren penurunan sejak 2000.

"Dari 2000 sekitar 3,51 juta hektare (ha), trennya turun. Sekarang secara official, deforestation rate cuma 0,44 persen," kata Manajer Proyek Divisi Perdagangan dan Industri ITTO Tetra Yanuariadi kepada Bisnis di sela-sela acara Inafor 2019 di IPB International Convention Center, Bogor, Selasa (27/8/2019).

Penyebab deforestasi sebagian besar karena ekspansi, konversi hutan untuk komersial, hingga degradasi hutan menjadi lahan. Namun, sumber utamanya adalah laju pertumbuhan penduduk.

Turunnya deforestasi di Indonesia, kata Tetra, karena adanya tekanan dari sejumlah pihak agar penghilangan hutan alam dengan cara penebangan untuk diambil kayunya atau mengubah peruntukan lahan hutan menjadi nonhutan itu berkurang.

Tetra menuturkan tekanan tersebut tidak hanya datang dari dunia internasional, tetapi juga dari dalam negeri seperti desakan dari lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kelestarian alam dan lingkungan.

Selain itu, pemerintah yang tegas menegakkan hukum dalam kegiatan ilegal di hutan juga turut berperan dalam berkurangnya angka deforestasi. "Yang penting konsistensi law enforcement," tuturnya.

Lebih lanjut, dalam mengatasi deforestasi, Tetra berpendapat pemerintah harus melakukan tata kelola ekonomi dan tata kelola yang baik melalui pengentasan kemiskinan dan peningkakan kesejahteraan. Menurutnya, proyek-proyek ITTO sangat mendukung kebijakan law enforcement dan memberi manfaat ekonomi ke masyarakat.

Adapun pembangunan desa sekitar hutan telah dijalankan. Begitu pula dengan membangun industri nonkayu seperti madu, rotan, dan tanaman obat-obatan, termasuk mengembangkan ecowisata. 

Kendati belum berkontribusi besar pada pendapatan negara, potensinya dinilai besar. "Kita bantu Indonesia capai target. Penanaman dan rehabilitasi hutan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Sekarang yang diperlukan konsistensi dan kebijakan. Kalau berubah-ubah, jadi enggak jalan," jelas Tetra.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hutan

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top