Pelaku Industri Khawatir Kinerja Sektor Tekstil Bakal Anjlok

Pelaku usaha tekstil dan produk tekstil (TPT) khawatir kinerja tahun ini bakal anjlok jika pemerintah tak segera mengeluarkan kebijakan untuk menjaga daya saing produk dalam negeri.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  13:08 WIB
Pelaku Industri Khawatir Kinerja Sektor Tekstil Bakal Anjlok
ilustrasi. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha tekstil dan produk tekstil (TPT) khawatir kinerja tahun ini bakal anjlok jika pemerintah tak segera mengeluarkan kebijakan untuk menjaga daya saing produk dalam negeri.

Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) menyatakan maraknya produk impor TPT membuat 1,5 juta bal benang dan 970 juta meter kain menumpuk di gudang-gudang industri. Adapun, nilai produk yang tertahan tersebut setara dengan Rp30 triliun atau stok produksi selama 2 bulan—3 bulan.

Ketua Umum IKATSI Suharno Rusdi mengatakan 2 bulan—3 bulan ke depan akan ada pabrikan yang tidak mampu membayar upah maupun pesangon tenaga kerja jika hal tersebut tidak diselesaikan. Menurutnya, hanya beberapa pabrikan dengan modal kuat yang dapat bertahan.

“Intinya kami meminta pemerintah mengubah kebijakan perdagangan agar lebih pro produk dalam negeri dan bisa menguasai pasar domestik, sambil kita tingkatkan daya saing agar bisa lebih bersaing untuk ekspor,” ujarnya belum lama ini.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (ASyFI) Redma Wirawasta mengatakan penghentian impor harus dilakukan mengingat produsen lokal sama sekali belum dapat mengeluarkan stok produksi. Menurutnya, jika penghentian impor dikabulkan selama 3 bulan, stok pabrikan lokal baru dapat keluar dari gudang-gudang industri.

“Tapi, kalau tidak disetop dalam 6 bulan ke depan akan banyak perusahaan yang gugur,” katanya kepada Bisnis.

Redma menambahkan maraknya produk impor dan perumahan karyawan industri TPT membuat utilitas industri benang dan kain tergerus. Dia mengatakan utilitas pabrikan benang saat ini turun menjadi 65% dari 75%-80% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, utilitas pabrikan tenun terpuruk lebih jauh ke level 40% dari 55%.

Berdasarkan data API, performa nilai ekspor industri TPT terus meningkat sejak 2016 sekitar 5%-6%. Namun, net ekspor industri TPT terus menipis sejak 2015. Adapun, nilai net ekspor industri TPT pada tahun lalu terkoreksi 14,22% menjadi US$3,2 miliar.

Penipisan nilai net ekspor tersebut disebabkan oleh tren impor industri TPT yang terus meningkat setiap tahunnya. Adapun, nilai impor pada tahun lalu tumbuh 13,86% menjadi US$10,02 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Industri Tekstil, industri tpt

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top