Waspadai Kenaikan Harga Beras dalam Waktu Dekat, Ini Alasannya

Pemerintah dinilai perlu mewaspadai risiko lonjakan harga beras dalam waktu dekat lantaran harga gabah di tingkat petani terpantau mulai naik dan target pengadaan dalam negeri Perum Badan Urusan Logistik (Persero) tahun ini terancam gagal tercapai.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  10:20 WIB
Waspadai Kenaikan Harga Beras dalam Waktu Dekat, Ini Alasannya
Pedagang menata beras di Pasar Tradisional Pinasungkulan, Manado, Sulawesi Utara, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Adwit B Pramono

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah dinilai perlu mewaspadai risiko lonjakan harga beras dalam waktu dekat lantaran harga gabah di tingkat petani terpantau mulai naik dan target pengadaan dalam negeri Perum Badan Urusan Logistik (Persero) tahun ini terancam gagal tercapai.

Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa menjelaskan, kenaikan harga gabah telah terjadi sejak awal musim kemarau tahun ini. Kondisi tersebut membuat Bulog kian sulit menyerap produksi beras dalam negeri. 

Berdasarkan data AB2TI, saat ini rerata harga gabah di sejumlah wilayah sentra produksi mencapai Rp6.000/kg.

Harga tersebut terpaut jauh dengan harga pembelian pemerintah (HPP) dengan fleksibilitas 10%, yakni Rp4.030/kg dalam bentuk gabah atau Rp8.030 dalam bentuk beras sesuai Inpres No.5/ 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras oleh Pemerintah.

Dengan kondisi tersebut, Dwi pesimistis target pengadaan dalam negeri beras Bulog sejumlah 1,8 juta ton tahun ini dapat terealisasi. Terlebih, musim panen kedua atau panen gadu di sejumlah wilayah sentra produksi mulai terhenti.

“Sulit tercapai [target pengadaan dalam negeri beras Bulog tahun ini], [karena] puncak panen sudah lewat dan mulai masuk musim paceklik,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (27/8/2019).

Dwi menambahkan, produksi beras nasional pada 2019 kemungkinan tak lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu akibat adanya gangguan produksi yang berpotensi muncul akibat musim kemarau berkepanjangan.

“Produksi pada musim panen kedua kemungkinan akan mengalami penurunan sebesar 20% dibandingkan dengan musim panen sebelumnya akibat penurunan luas lahan sekitar 500.000 hektare akibat puso” ujarnya.

Sementara itu, anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat Kudhori juga menyebut pengadaan beras dalam negeri oleh Bulog pada tahun ini sulit untuk mencapai target 1,8 juta ton apabila melihat kondisi saat ini.

Dengan demikian, dia menilai pemerintah sudah seharusnya menyiapkan langkah intervensi agar tidak terjadi kekurangan stok beras yang mengakibatkan gejolak harga di pasaran.

“Kalau memang harus impor ya seharusnya tidak perlu gaduh karena itu demi kebaikan bersama, ketahanan stok pangan nasional,” kata Khudori.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar Utomo menegaskan masyarakat tak perlu khawatir akan munculnya gejolak harga beras akibat kurangnya stok saat musim kering. Dia menjelaskan saat ini gudang Bulog masih menyimpan stok 2,3 juta ton.

Terkait dengan pengadaan dalam negeri beras, Bachtiar mengungkapkan total serapan Bulog mencapai rerata 4.000 ton per hari. Berdasarkan data per Selasa (27/8), total pengadaan dalam negeri beras Bulog sepanjang tahun ini baru mencapai 0,94 juta ton atau 52,2% dari total target sepanjang 2019.

Bulog pun optimistis target tersebut dapat tercapai lantaran saat ini perseroan tidak lagi hanya membeli gabah atau beras dengan harga penugasan atau sesuai HPP. “Saat ini kami juga membeli dengan harga komersial yang mengikuti harga pasar,” ungkap Bachtiar.

Pada perkembangan lain, PT Food Station Tjipinang Jaya, pengelola Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), menambah pasokan beras sebanyak 40.000 ton untuk mengantisipasi kekurangan stok pada musim kemarau tahun ini.

Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi mengatakan, 40.000 ton beras tersebut didatangkan dari Sulawesi Selatan yang saat ini masih berada dalam masa panen.

“Sedang didatangkan secara bertahap, beberapa peti kemas sudah masuk ke PIBC, di sana masih panen sampai awal bulan depan,” katanya, Selasa (27/8/2019).

Langkah tersebut diambil lantaran Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi musim kemarau pada tahun ini akan berlangsung lebih lama dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

BMKG memprediksi musim hujan yang biasa dimulai pada Oktober kemungkinan mundur sampai dengan 30 hari. Hal tersebut tentu memicu kekeringan yang akan mengancam produksi beras di Tanah Air.

“Kami mengambil langkah antisipatif jauh-jauh hari, kami tidak ingin ada kekurangan stok yang tentu akan menimbulkan gejolak harga, kami punya early warning system,” kata Arief.

Berdasarkan data Pusat Informasi Pasar PIBC, stok beras di PIBC per 26 Agustus 2019 sebanyak 56.480 ton. Angka tersebut masih berada di atas ambang batas aman 43.000 ton.  Stok beras tersebut didominasi oleh beras premium.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bulog, Harga Beras, Stok Beras, Beras Bulog

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top