GMF AeroAsia dan Batam Aero Technic Matangkan Detail Joint Venture

PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Tbk., membutuhkan waktu 90 hari untuk mematangkan kerja sama dengan Batam Aero Technic (BAT) terkait dengan pengembangan fasilitas airframe maintenance di Batam.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  17:57 WIB
GMF AeroAsia dan Batam Aero Technic Matangkan Detail Joint Venture
Suasana Hanggar 2 milik GMF AeroAsia, Senin (26/8/2019). - Bisnis/Rio Sandy Pradana

Bisnis.com, CENGKARENG - PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Tbk., membutuhkan waktu 90 hari untuk mematangkan kerja sama dengan Batam Aero Technic (BAT) terkait dengan pengembangan fasilitas airframe maintenance di Batam.

Plt. Direktur Utama GMF Tazar M. Kurniawan mengatakan potensi pekerjaan perawatan pesawat untuk maskapai nasional selama ini masih banyak yang dilakukan di luar negeri.

Padahal, pekerjaan perawatan besar (airframe maintenance) mencakup landing gear, component, dan engine, cukup prospektif.

"Selama 90 hari ke depan akan kami detailkan kerja sama itu [airframe maintenance], intinya joint development agreement. Selama ini potensi pekerjaan itu yang lari ke luar negeri mencapai US$750 juta," kata Tazar saat ditemui di Hanggar 2 GMF, Senin (26/8/2019).

Pihaknya menjelaskan dalam konsep joint venture tersebut nantinya BAT akan membangun hanggar, sedangkan GMF akan melengkapi dengan tenaga ahli, serta potensi pelanggan dari maskapai asing. Adapun, besaran kontribusi masing-masing pihak baru akan diselesaikan dalam pekan ini.

Dia menambahkan perusahaan sudah melakukan investasi peralatan maupun pengembangan dari sisi tenaga ahli. Di sisi lain, beragam sertifikasi terkait juga sudah berhasil didapatkan baik dari Federal Aviation Administration (FAA), European Union Aviation Savety Agency (EASA), maupun manufaktur.

Sertifikasi perawatan mesin sudah didapatkan dari CFM International. Hal serupa juga sudah diperoleh untuk landing gear maupun komponen lain melalui berbagai kerja sama dengan mitra strategis.

Perusahaan perawatan pesawat (maintenance repair overhaul/MRO) ini mengklaim airframe maintenance di dalam negeri memiliki tingkat daya saing yang tinggi.

Selain biaya operasi yang rendah dan jumlah tenaga kerja yang melimpah, peningkatkan kompetensi yang dilakukan setiap tahun bisa menjadi keunggulan.

Tazar menuturkan pengembangan airframe maintenance akan dilakukan di Batam. Fasilitas perawatan di wilayah tersebut akan ditingkatkan agar sesuai dengan persyaratan dari otoritas internasional.

Menurutnya, Batam menjadi pilihan utama untuk pengembangan fasilitas airframe maintenance karena fasilitas yang dimiliki GMF di Cengkareng sudah mencapai batas maksimal.

"Jadi, semakin banyak pekerjaan airframe dari (maskapai) luar yang bisa kami kerjakan di dalam negeri," ujarnya.

Sebelumnya, BAT telah memulai pembangunan tahap ketiga dengan pembangunan delapan hanggar perawatan pesawat yang menempati area seluas 56.260 m² sehingga dapat menampung 16-24 line perawatan produksi pesawat sekaligus. Pengembangan hanggar dilakukan secara bertahap dan diperkirakan selesai hingga pembangunan tahap kelima pada 2027.

Pembangunan hanggar tahap pertama dilaksanakan periode 2012-2014 dan pembangunan tahap kedua dilaksanakan pads 2015-2019. Total investasi hingga selesai pada 2028 diperkiran mencapai Rp10 triliun.

Hanggar fase 3 akan memenuhi persyaratan sesuai standar operasional Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan internasional (FAA/EASA).

Hanggar dilengkapi dengan pintu hangar atau Megadoor, gedung perkantoran, gudang sparepart, dan gedung utilitas. Luas total area hanggar sekitar 30 Ha, dengan hanggar pesawat 36 bay dan 2 bay hanggar painting.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gmf aeroasia

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top