Bonus Demografi Potensial Ungkit Kinerja Konsumsi

Bonus demografi menjadi faktor utama pemerintah bisa mengandalkan konsumsi sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  10:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Bonus demografi menjadi faktor utama pemerintah bisa mengandalkan konsumsi sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi.

Menurut Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia RAPBN 2020 sebenarnya belum kuat dan agresif mendorong konsumsi dan investasi.

"Oleh karena itu pertumbuhan kita terjebak di pertumbuhan natural yaitu pada kisaran 5%," jelas Piter kepada Bisnis.com, Minggu (25/8/2019).

Dia menjelaskan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mengandalkan konsumsi dan investasi bukan strategi yang buruk. Dia menyebut banyak negara khususnya yang sudah aging atau kekurangan populasi menghadapi masalah tidak bisa mendorong konsumsi.

"Kita yang demografinya masih didominasi orang muda, mengalami bonus demografi diuntungkan dengan potensi konsumsi," ungkap Piter.

Dia memerinci, pertumbuhan rata-rata Indonesia yaitu 5% juga sebagian besar akibat geliat konsumsi. Oleh sebab itu, pemerintah seharusnya memanfaatkan potensi tersebut untuk mendongkrak pertumbuhan dari sisi konsumsi.

"Maka itu APBN harus lebih agresif," tegasnya.

Beberapa cara, menurut Piter, dengan meningkatkan belanja pemerintah disertai dengan pelonggara belanja. Namun konsekuensinya, defisit akan melebar.

"Tapi jangan takut dengan pelebaran defisit, asal tetap di bawah 3% dari PDB," pungkasnya.

Menurut Piter, belanja pemerintah khususnya belanja pembangunan dan belanja modal perlu didorong untuk mendorong investasi dan konsumsi.

Selain itu belanja rutin juga tidak perlu dipangkas, tetapi dikelola dengan baik agar bisa membantu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bonus demografi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top